Jadewa Berunjuk Rasa Menolak Proyek Busway Selanjutnya
Rabu, 16 Juni 2004 | 13:17 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Puluhan anggota Jakarta Development Watch (Jadewa) melakukan aksi menolak rencana proyek busway jilid II dan III, di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Rabu (16/6). "Karena ada indikasi korupsi. Apalagi kita tahu, anggota DPRD akan berganti dan Rustam Efendi (Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta) akan pensiun," kata Nur S. Azhari, Kepala Divisi Investigasi Jadewa.
Jadewa mencium "bau" persekongkolan jahat pada proyek busway jilid II dan III, yaitu adanya dana sebesar Rp. 600 miliar yang tidak terdapat dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah 2004 tapi sudah disetujui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta pada akhir Desember 2003. "Dana cadangan itu untuk busway koridor II dan III. Padahal, dana cadangan dikeluarkan hanya untuk keadaan genting dan darurat," kata Nur.
Jadewa juga menduga, dalam proyek busway jilid II dan III telah terjadi kebocoran dana sekitar Rp. 180 miliar: biaya persetujuan sebesar lima persen dari Rp. 600 miliar dan Rp. 150 miliar untuk mekanisme yang tidak jelas dan transparan dalam pelaksanaan pelelangan dan pengadaan bus. "Ini belum efek lainnya dengan adanya kemacetan yang nilainya lebih besar dari kebocoran itu," kata Nur.
Selain itu, Jadewa juga menuntut audit terhadap semua proyek Dinas Perhubungan DKI Jakarta anggaran tahun 2003, terutama anggaran busway jilid I Blok M-Kota dan menginformasikannya secara jelas kepada masyarakat lewat media massa. Karena seperti dikatakan Nur, telah terjadi berbagai penyelewengan pada pengadaan busway jilid I yang diresmikan pada 15 Januari 2004. Pengadaan bus senilai Rp. 50 miliar dan proyek lainnya dari anggaran 2003 yang mencapai Rp 105.120.000.000 dilakukan dengan mekanisme lelang yang tidak jelas. "Diduga, ini sudah diatur oleh pejabat di Lingkungan Dinas Perhubungan. Jelas, nuansa KNN sangat kental dalam proyek ini," kata Nur.
Bukan itu saja. Nur juga menunjuk kebohongan lainnya, armada yang direncanakan menggunakan bahan bakar gas, ternyata menggunakan bahan bakar solar. Bukan saja bohong, kata Nur, pohon-pohon di jalur hijau juga ditebang. "Rencananya, proyek busway koridor II dan III sepanjang 33 kilometer itu juga akan mengorbankan ratusan pohon," kata Nur lagi.
Muhamad Fasabeni - Tempo News Room





