Atlet Terjun Payung Itu Kini Telah Tiada
Senin, 21 Juni 2004 | 17:00 WIB
Jakarta--Suasana berduka menyelimuti rumah Edy Christiono, operator dan instruktur terjun payung di Klub Aves Bandung. Edy, warga Jalan Malaka Merah V/2, Malaka Country Estates, Pondok Kopi, Jakarta Timur adalah salah satu korban dari lima korban tewas dalam musibah jatuhnya pesawat ringan Cessna 185 Skywagon milik klub tersebut, Minggu lalu (20/6).
Seluruh anggota keluarga Edy telah berkumpul di rumah bercat putih itu sejak pagi. Rumah dan halamannya dipenuhi sekitar 100 orang pelayat yang umumnya kenalan korban dan kenalan istri korban, Nina Yuanita, 45 tahun. Suasana berkabung sangat terasa. Jenazah Edy terbaring dalam peti di ruang tengah.
Jenazah Edy baru ditemukan di tempat kejadian sekitar pukul 01.00 WIB (21/6). Tim evakuasi mengalami kesulitan untuk mengangkatnya. Jenazah sempat dibawa ke Rumah Sakit PMI Bogor sebelum tiba di kediaman korban sekitar pukul 06.30 WIB.
Korban meninggalkan istri dan dua anak, Pinkan, 16, yang masih duduk di kelas satu SMA dan Stevi,13, yang masih berstatus pelajar kelas 1 SMP. Edy adalah anak kedua dari empat bersaudara.
Istri almarhum, Nina tidak bersedia memberikan keterangan karena dilanda duka yang dalam. Ia terus menangis. Nina hanya menunduk dan sesekali mengangguk-angguk setiap kali ditanya. Salah satu anggota keluarga mereka akhirnya melarang wawancara karena kasihan melihatnya.
Kedua anak almarhum pun menolak berbicara. Mereka hanya duduk di samping peti jenazah Edy. Kerabat almarhum, yang berasal dari Solo, sudah tiba sejak Senin pagi.
Sebelum jenazah diberangkatkan ke pemakaman, dilakukan prosesi kebaktian Kristen. Siang harinya jenasah kemudian diberangkatkan ke pemakaman pemakaman Giri Tama, Tanjung, Parung Bogor.
Edy yang lahir di kota Solo pada 11 Pebruari 1958. Menurut keterangan Agus Suparto, salah satu adik korban, Edy menekuni bidang instruktur terjun payung baru sekitar empat tahun. Profesi itu hanya dilakukan pada Sabtu dan Minggu saja.
Sehari-hari Edy bekerja sebagai senior sales manage di perusahaan cargo udara RFX (Republic Express) di Ujung Tol Pondok Pinang, Jakarta Timur. Pekerjaan instruktur terjun payung sekaligus manajer Lido Aero Club Lido Lakes Resort di Jalan Raya Bogor - Sukabumi ditekuninya sejak Maret 1999. Keluarga mengaku pasrah menerima musibah meninggalnya Edy. "Keluarga kami kan memang sudah biasa menghadapi resiko-resiko, setiap hari berhadapan dengan ancaman," kata Agus yang wartawan kantor berita AFP itu.
Edy, menurut Agus, pernah belajar di FAA Private Pilot, Single Engine - Land di West Valley Flying Club Palo Alto, USA pada Juni 1997. Edy adalah satu-satunya yang mengikuti jejak bapak mereka (yang bernama Suparto dan berprofesi sebagai dosen olahraga di Universitas Sebelas Maret di Solo, Jawa Tengah). "Hanya dia yang menjadi atlit," kata Agus. Bagi keluarganya, Edy menjadi figur yang dikenal sebagai sosok yang tabah dan kuat.
Catatan Prestasi Edy Christiono :
- Anggota Tim Terjun Payung Jawa Barat (PON 1981, 1985, 1989, 1996, 2000),
- Juara nasional ketepatan mendarat beregu (1981, 1985, 1989),
- Juara nasional ketepatan mendarat perorangan (1988),
- Juara nasional kerjasama di udara (1993, 1996, 2000),
- Mengikuti kejuaraan dunia/ FAI World Air Games di Efes Turki (1987),
- Mengikuti kejuaraan dunia/ FAI World Air Games di Granada Spanyol (2001),
- Mengikuti kejuaraan Asean II Sinapura (1980),
- Mengikuti kejuaraan Malaysia Terbuka (1981),
- Mengikuti kejuaraan (South Pasific II - Australia (1982),
- Mengikuti kejuaraan Asean III Thailand (1983),
- Mengikuti kejuaraah Pahang Challenge - Malaysia (1997)
(siswanto-tnr)
Topik :




Komentar Anda :