Sawah dan Sumur Mulai Mengering

Rabu, 23 Juni 2004 | 20:29 WIB

Prediksi musim kemarau ini dibenarkan oleh Badan Meteorogi dan Geofisika, Darmaga, Bogor yang memperkirakan sejak bulan Mei sampai Oktober 2004 daerah Bogor mengalami musim kemarau..

Pengamatan Tempo News Room sejak Selasa hingga Rabu (23/6), kekeringan mulai dirasakan oleh ratusan petani di Kecamatan Parung Panjang, Tenjo, Parung, Leuwiliang, Jasinga, Sawangan, Cariu dan Jonggol yang merupakan wilayah Barat dan Utara kabupaten Bogor. Selain hamparan sawah mengering sebagian diantaranya tanahnya terbelah-belah akibat kekurangan air.

Menurut petani di Parung Panjang dan Tenjo, kekeringan mulai dirasakan sejak bulan Mei lalu hingga kemarin karena di daerah tersebut hujan jarang turun, akibatnya sawah mereka mengering, bahkan sumur di daerah mereka mulai mengering. “Air sumur dipakai untuk minum dan masak, kalau mandi dan cuci, kita terpaksa berjalan kaki ke pinggir kali yang airnya keruh,” jelas Nur Rohman, 56 tahun, warga Desa Parung Panjang.

Penderitaan warga di Kecamatan Parung Panjang dan Tenjo bertambah karena jembatan yang menghubungi daerah mereka hingga perbatasan Bogor-Tangerang sejak pekan lalu ambruk, sehingga tidak bisa dilewati. Warga dan sepeda motor terpaksa menyeberang naik rakit. Selain jembatan ambruk, jalan masuk ke Parung Panjang rusak parah. Kerusakan disebabkan banyak truk besar mengangkut galian pasir dan batu melewati jalan desa setiap hari. “Sejak jembatan ambruk, saya terpaksa naik rakit melewati sungai Cisadane dengan penuh resiko, kemarin aja ada motor dan orangnya kecebur,” kata Suherman, warga Cibunar, Parung Panjang.

Selain kekeringan sawah di Desa Cilaku, Singa Bangsa dan Babakan Kecamatan Tenjo, ternyata sebuah situ (danau) di wilayah itu mulai menyusut sehingga warga sekitar kesulitan untuk mandi-cuci-kakus. Ujang Maksum, warga Desa Tenjo mengatakan kekeringan yang melanda daerah mereka karena areal pesawahan mengandalkan air hujan. Sehingga ketika hujan tidak turun, ,sawah mereka kering.

Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika Dramaga Bogor Widiastuti menjelaskan, kekeringan yang melanda daerah Bogor bagian barat dan utara selalu terjadi saat musim kemarau. Karena dari hasil pantauan mulai bulan Mei sudah memasuki musim kemarau yang diperkirakan akan berlangsung sampai Oktober 2004 mendatang.

Hasil pantauan BMG menyebutkan, sejak Mei hingga Juni ini curah hujan kurang dari 150 milimeter (mm) atau per hari kurang dari 50 mili meter, karena itu bisa dikatagorikan sebagai musim kemarau. Untuk wilayah Bogor Barat dan Utara, juga masuk dalam daftar daerah perkiraan musim V yang curah hujannya berkurang. “Musim kemarau tahun ini dinilai relatif masih normal bila dibanding tahun 2003 lalu. Tetapi bila terjadi gangguan global terhadap alam tentunya akan berpengaruh terhadap musim kemarau tahun ini,” jelas Widiastuti.

Sedangkan untuk Bogor bagian Selatan, sulit diprediksi karena cuaca di daerah tersebut walaupun memasuki musim kemarau tetapi curah hujan relatif sering turun. Sehingga tidak bisa diperkirakan awal musim kemarau di wilayah itu.

deffan

Topik :

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :