Kerusakan Paling Parah di Gedung Gracia
Kamis, 09 September 2004 | 14:21 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Akibat ledakan di depan Kedutaan Besar Australia, justru paling parah dirasakan gedung di sebelah kirinya, yaitu gedung Gracia.
Menurut Winky, seorang saksi mata yang berada di lokasi ledakan 5 menit setelah peristiwa, dia menyaksikan korban paling banyak justru para karyawan gedung Gracia.
"Lift gedung itu hancur, dan lantai dasarnya sudah tidak berbentuk. Kemungkinan besar banyak yang terjebak di dalam gedung, sehingga susah melakukan evakuasi korban," kata Winky, menjelaskan.
Menurut Winky, saat itu ia tengah berada di Menara 9, sekitar 400 meter dari lokasi. Ketika tengah menghidupkan mobil, ia mendengar dentuman keras. Secara refleks, ia berbalik masuk ke dalam untuk mengetahui kondisi keluarganya yang tengah berada di menara itu. Namun, karena melihat tidak terjadi apa-apa, dia langsung mengarah ke lokasi ledakan.
Saat itu ia melihat di kawasan Rasuna Said banyak orang berlarian dengan memegangi luka di kepalanya. "Saya melihat belasan orang memegangi kepalanya, dan darah menetes terus," katanya.
Winky pun mencoba memasuki gedung Kedubes Australia. Meski gedung itu rusaknya tak separah gedung Gracia, namun di dalam gedung kedutaan itu banyak terparkir mobil. Satu dari mobil yang dia temukan terparkir di dalam kedutaan, ketika ia sempat melirik dan melihat ada mayat di dalam mobil tersebut.
Dia sempat mencatat mobil-mobil yang terparkir di kedutaan, yakni Hyundai Atoz B 1032 QH, Daihatsu Taruna B 8766 JS, Honda CRV B 8756 KG, Kijang B 1026 ZT.
Menurut Winky, bom itu juga merusakkan pos penjagaan polisi yang ada di dalam gedung, sehingga membuat tiga polisi luka berat, yaitu dua orang dari Brimob dan seorang dari pengamanan VIP. Satpam Kedubes yang tewas karena ledakan itu diidentifikasi bernama Anton (38 tahun). Menurut dia, tubuhnya gosong.
Di luar gedung terparkir truk Daihatsu bernomor B 9697 HK, dua taksi Silver Bird masing-masing bernomor B 2241 OP dan B 1088 TV. Dua taksi ini terjebak di antara kerumunan seperda motor yang juga terjebak macet, sesaat sebelum ledakan. Dia melihat truk polisi yang terparkir di Jalan Rasuna Said itu tidak berpenumpang.
Ketika peristiwa itu terjadi, Aris Budiyanto, seorang manajer di PT Indolok Bakti Utama, yang berada di Plaza 89 Building, sekitar 25 meter di seberang jalan kedutaan, merasakan dentuman gelegar sangat keras yang mengakibatkan kaca-kaca dan lampu-lampu di kantornya berjatuhan.
"Saat itu, posisi saya berada di lantai 3 paling ujung," kata Aris. Secara refleks ia merangkak ke bawah meja, menunggu redanya kaca yang rubuh. Setelah itu, ia lari melalui pintu darurat dan mendata karyawannya yang berjumlah sekitar 200 orang. "5 Karyawan saya dibawa ke rumah sakit karena terkena pecahan kaca," jelasnya.
Ketika tengah mendata karyawannya di depan kantor, ia melihat seorang warga negara asing bermata sipit tampak berjalan panik dan ia menyaksikan sebuah pemandangan yang sangat mengerikan.
"Saya lihat rahang bawahnya lepas, yang ada tinggal gigi atas aja," kata dia. "Itupun dia masih bisa jalan."
Melihat pemandangan seperti itu, dengan geram ia mengatakan, selayaknya pemerintah serius menangani teroris dan tidak lagi mempedulikan persoalan HAM para teroris.
Istiqomatul Hayati





