TPST Rugi Puluhan Miliar, Warga Bojong Masih Ketakutan
Rabu, 24 November 2004 | 11:30 WIB
TEMPO Interaktif, Bogor:
Polisi menyebutkan telah memeriksa 35 orang warga Bojong sebagai buntut pengrusakan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bojong, Klapa Nunggal, Bogor. Menurut Kapolwil Bogor, Komisaris Besar Bambang Wasgito menyebutkan setelah dilakukan pemeriksaan akhirnya hanya 17 orang termasuk lima orang yang tertembak, ditetapkan sebagai tersangka karena terbukti melakukan pengrusakan.
Di lokasi TPST Bojong, sejumlah karyawan masih terlihat membereskan sejumlah dokumen yang berserakan di kantor penggelola PT Wira Guna Sejahtera. Terlihat 3 komputer hancur, satu unit mesin fotocopi juga rusak, sejumlah meja dan kursi patah. Di bagian depannya terlihat tiga mobil sedan hangus diantaranya Suzuki Baleno B-2029-NZ, Honda Accord B-2029-NZ, Toyota Corola B-6-RZ, sebuah sepeda motor milik anggota Brimob dan Honda Mega Pro milik TPST Bojong juga hangus terbakar. Sedangkan mobil yang dirusak yakni Hartop BG-1842-AB, Mitsubishi L-300 Box B-9366-AT, Suzuki katana Merah B-144-AS, Toyota Cresida B-2979-RT dan sebuah Toyoya
Pikap merah B-9385-N, selain kendaraan milik karyawan sebuah forklip khusus mesin Ballapers merk dDieci kacanya hancur. Selain kendaraan yang dirusak dan dibakar, di
ruang genset (diesel) dan panel listrik tampak hangus terbakar.
Direktur Utama PT Wira Guna Sejahtera, Sofyan Hadi Wijaya terlihat terpukul atas kejadian ini, ia tidak menyangka aksi kerusuhan Senin kemarin lebih parah dibanding
kejadian 4 Oktober lalu yang hanya menimbulkan kerugian sekitar Rp 150 juta, tetapi kerusuhan kemarin menimbulkan kerugian milyaran rupiah, "Ya sekitar Rp 20 sampai 30 miliar. Dengan hancurkan tempat kami saya yakin ada orang yang merasa senang dan puas. Saat ini saya tidak tahu harus berbuat apa," ujar Sofyan tanpa menyebutkan siapa
pihak yang merasa senang.
Di seputar TPST Bojong memang masih terlihat sepi, namun warga terutama kaum ibu dan anak-anak sudah berani keluar rumah dan melihat lokasi bekas kerusuhan. Sedangkan para lelaki termasuk pemuda, jarang terlihat, hanya satu dua orang saja yang melintas. Polisi juga tidak lagi melakukan sweping dan menjaga areal TPST Bojong. Sampai tadi malam ada dua peleton (60 orang) yang berjaga satu peleton dari Pasukan Dalmas dan satu peleton pasukan Brimob.
Menurut Emih, yang hanya berjarak 100 meter dari TPST Bojong, hingga malam tadi suasana masih mencekam, karena polisi mendatangi rumah-rumah warga Bojong. Banyak para lelaki yang sengaja tidak pulang karena takut ditangkap, polisi juga sempat menanyakan keberadaan suaminya, "Meskipun kemarin ribut suami saya tidak ikut-ikutan tetapi hanya nonton dari jauh, karena menjaga warung takut ada yang menjarah," tutur Emih. Secara pribadi ia mengatakan tetap menolak keberadaan tempat sampah itu
meskipun memakai teknologi modern. "Kalau jadi tepat di belakang rumah saja sudah tempat sampah," tuturnya.
Sedangkan Minah, mengaku kebingungan ketika anak lelaki dan suami tidak pulang ke rumah sejak tadi malam, "Saya tidak tahu mereka ada dimana. Saya khawatir keberadaan
mereka, semalaman saya menangis bingung," kata Minah, matanya terlihat masih sembab, Ia tampak pasrah. Ketika didesak apakah ada kemungkinan suami dan anak lelakinya pergi menyembunyikan diri, Minah tidak berkomentar banyak.
Rencananya hari (Rabu) ini akan diadakan pertemuan di Gedung DPRD Kabupaten Bogor antara Pemerintah Kabupaten Bogor, DPRD Kabupaten Bogor, Pemerintah DKI Jakarta, Polwil dan Polres Bogor, penggelola TPST Bojong dan warga Desa Bojong.
Deffan Purnama-Tempo





