|
Jakarta
Organda dan Kopersi Bajaj Tetap Menolak Kancil
Jum'at, 26 November 2004 | 15:35 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Organda dan Koperasi Bajaj membantah jika pihaknya mulai menerima kehadiran Kendaran Kecil (Kancil). Hingga saat ini mereka masih tetap menolak kehadiran kedaraan yang diproyeksikan akan menggantikan keberadaan bajaj.
Menurut Ketua III Bidang Pembinaan Anggota Organda DKI, Hisar Gultom pihaknya mendukung sepenuhnya keinginan para anggota. "Sehingga kami berprinsip selama pengusaha bajaj menolak Organisasi tetap akan menolak," katanya, ketika dihubungi Tempo, Jumat (26/11).
Diungkapkan Hisar selama ini para pengusaha bajaj tetap tidak menginginkan bajaj diremajakan dengan kancil. Menurut dia kalau alasan pemerintah ingin mewujudkan program langit biru. Pihaknya memiliki konsep lain tidak harus mengganti Bajaj dengan Kancil. Masih ada alternatif lain yang lebih murah yakni dengan rekondisi bajaj, yaitu dengan mengganti mesin dan bahan bakar serta knalpot. "Untuk model bajaj seperti ini kami sudah membuat contohnya," kata Hisar.
Menurut Hisar rekondisi jauh lebih murah dibanding harus meremajakan Bajaj dengan Kancil. Jika rekondisi dengan mengganti mesin dan kenalpot, pengusaha Bajaj cukup mengeluarkan biaya sekitar Rp 3-4 juta. Sedang bila harus meremajakan Bajaj dengan Kancil mereka harus mengeluarkan dana Rp 43 juta. "Dengan harga setinggi itu, berapa pengusaha harus menarik setoran dari para sopir," ujarnya.
Lelaki yang juga duduk dalam kepengurusan Koperasi Bajaj Sehati ini, juga menilai penggantian bajaj dengan Kancil juga dinilai tidak tepat. Selama ini bajaj melayani kampung transportasi masyarakat dari gang ke gang, sedangkan Kancil adalah kendaraan roda empat yang akan kesulitan menjangkau pelosok-pelosok Jakarta.
Ia juga menilai uji coba pengopersian kancil yang telah habis masa uji cobanya pada 24 November lalu dinilai gagal, karena masyarakat terutama pengusaha bajaj menolak mengganti bajaj mereka dengan Kancil. Pihaknya bahkan menuduh uji coba dengan 26 unit bajaj tersebut hanya akal-akal PT Kancil. Menurut Hisar PT Kanci-lah yang membeli bajaj tersebut kemudian menggantinya dengan Kancil. "Jadi bukan pengusaha yang menjual bajajnya untuk diganti dengan Kancil," kata Hisar. Sejauh ini para pengusaha tetap menolak menjual bajajnya untuk diganti dengan Kancil.
Melihat kondisi ini pihaknya meminta kepada pemerintah tidak memasakan kebijakan tersebut. "Sebab jika dipaksakan di bawah akan terjadi benturan," katanya.
Ramidi - Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|