Jakarta Barat Tempat Potensial HIV/AIDS
Senin, 29 November 2004 | 17:03 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Tak salah jika tempat berkembangnya hiburan malam dan tentu saja narkotik dan obat-obatan terlarang menjadi sarang berkembangnya virus HIV (virus penyebab penyakit AIDS). Menurut Kepala Seksi Penyakit Menular Suku Dinas Kesehatan Masyarakat Jakarta Barat,dr. Ariyani, Jakarta Barat adalah tempat potensial tertularnya HIV AIDS. “Ada tiga titik rawan AIDS di Jakarta Barat. Yaitu Tambora, Taman Sari, dan Grogol-Petamburan,” katanya.
Karena , menurut Ariyani, banyaknya pekerja seks di Jakarta Barat, khususnya di tiga tempat tersebut. “Namun trend AIDS saat ini sudah bergeser dari pelaku seks ke pengguna narkoba,”ujatnya. Di Indonesia, dari estimasi 25 ribu pengguna narkoba dengan jarum suntik atau IDO, 50 persennya sudah positif HIV.
Penderita HIV AIDS di Jakarta Barat yang tercatat sampai saat ini 125 orang. Terdiri dari 90 orang penderita HIV positif dan 35 orang penderita AIDS. Tapi angka itu tidak menunjukkan keadaan yang sebenarnya berkembang di masyarakat. “Yang tercatat paling hanya 20 persen dari keadaan sebenarnya,”kata Ariyani.
Rendahnya catatan itu karena tingkat kesadaran yang masih kecil dari penderita untuk memeriksakan dirinya. Data jumlah penderita HIV AIDS diperoleh dari tiga sumber yaitu rumah sakit, pemeriksaan darah pada pekerja seks, dan penemuan LSM Kios Atmajaya. LSM ini melakukan pendampingan terhadap 1.200 orang pengguna narkoba. Dan data menunjukkan 72 persennya sudah terjangkit HIV.
Fakta bahwa tingkat kesadaran masyarakat masih kecil menyebabkan data yang terlihat sedikit, padahal kejadian dilapangan jauh lebih besar.
Masalah diskriminasi di Indonesia masih menjadi masalah dalam penanggulangan AIDS. Antisipasi Sudin Kesmas saat ini berupa program kampanye dengan penyuluhan ke sekolah, tempat kerja, tempat hiburan dan industri.
Untuk jangka panjang, Suku Dinas Bina Mental dan Kesejahteraan Sosial Jakarta Barat (Sudin Bintal Kesos Jakbar) sudah bekerja sama dengan komisi penanggulangan AIDS provinsi atau KPAD. Sudin Bintal Kesos Jakbar bersama KPAD berencana membuat rumah singgah atau //shelter// khusus untuk penderita AIDS yang tidak diterima oleh keluarganya, dalam waktu tiga sampai empat tahun kedepan. “Namun lebih baik bila keluarga yang menampung penderita,”kata Ariyani. Di Tambora, yang merawat penderita AIDS malah teman-teman sepenanggungannya.
Program pemerintahan DKI Jakarta dalam penanggulangan AIDS yang sudah berjalan saat ini adalah program obat anti-retroviral di 25 rumah sakit di Jakarta. “Di Jakarta Barat, Rumah Sakit Dharmais menjadi rujukan untuk pengobatan,”ujar Ariyani. Obat anti-retroviral adalah kombinasi obat antivirus untuk melawan HIV. “Supaya daya tahan tubuh naik lagi,” kata Ariyani. Di Rumah Sakit Dharmais, pengobatan yang seharusnya berharga Rp 400-500 ribu perbulan disediakan dengan harga terjangkau yaitu Rp 189 ribu perbulan.
Namun, resiko pengobatan terhadap HIV adalah kekebalan kuman bila penyembuhan berhenti di tengah jalan. “Yang menjadi masalah adalah penderita tidak mengerti kalau dia sakit,”kata Ariyani. Seringkali penderita tahu obatnya, tetapi tidak tahu pengobatannya. Sehingga, terjadi resistensi virus. Disini, peran pengawas minum obat penting.
Fanny Febiana
Topik :






Komentar Anda :