SD Negeri 02 Jatikarya Yang Terancam Longsor Akan Dipindah
Jum'at, 03 Desember 2004 | 12:56 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Kegiatan belajar mengajar murid Sekolah Dasar Negeri (SDN) Jatikarya 02 Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi, yang gedungnya terancam longsor, akan dipindah dan bergabung dengan SDN lain.
Pertimbangannya, demi keselamatan murid dari ancaman longsor di musim hujan dan efisiensi biaya pembangunan.
Rencana pemindahan tempat belajar murid ini diusulkan DPRD Kota Bekasi Komisi B setelah mendapat desakan dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk murid dan guru SDN 02 Jatikarya.
Beberapa waktu lalu, setelah berbagai media memberitakan kondisi gedung sekolah, dewan langsung mengunjungi lokasi untuk survei.
Dari hasil survei itu, kemudian dewan mempertimbangkan pemindahan seluruh murid SDN Jatikarya 02 yang berjumlah 152 orang murid ke gedung lain yang lebih aman untuk proses belajar.
Saat ini, Komisi B sudah meminta Komisi D bidang pembangunan untuk mempelajari penggabungan tempat belajar ke tempat baru.
"Kami sudah minta Komisi D untuk memanggil dinas terkait (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bekasi) untuk membicarakan pemindahan lokasi. Ini musim hujan sehingga membahayakan keselamatan murid-murid," kata Sekretaris Komisi B, Muhamad Hasim Affandi yang dihubungi Tempo pada Jum'at (3/12).
Dewan sepakat segera membahas masalah yang dihadapi murid dan guru SDN 02 yang setiap hari digelayuti kekhawatiran gedung tempat belajarnya sewaktu-waktu ambles.
Dewan mendesak dinas terkait segera menanggapi kejadian ini dan selekasnya memprioritaskan pengusulan penanganan sekolah, khususnya SDN Jatikarya 02.
Mengenai lokasi belajar mengajar yang baru, saat ini masih dibahas secara intensif di dewan. Dipastikan, setelah dinas terkait memenuhi panggilan untuk pemecahan masalah, dalam waktu dekat, seluruh murid segera dipindahkan.
"Daripada saat ini mereka kena longsor, kondisinya memprihatinkan, terlalu berbahaya," ujar Affandy.
Pertimbangan lain pemindahan lokasi tempat belajar juga terkait dengan rencana efisiensi pemerintah daerah untuk anggaran pembiayaan gedung sekolah. Dengan jumlah enam lokal untuk belajar murid sebanyak 152, kata Affandy, tentunya satu ruang kelas hanya diisi sekitar 20-25 murid saja. "Kan masih banyak yang kosong, mubazir," kata dia.
Namun, yang saat ini sedang serius dibahas adalah lokasi pemindahan dan kapan waktunya. Sebab, kata Affandy, ini berkaitan dengan musim hujan di Kota Bekasi yang volumenya kian meningkat. "Yang utama gimana mereka dipindah dulu dan bisa belajar dengan aman, bukan soal anggaran dulu," ujar Affandy.
Dari pemantauan Tempo di SDN 02 Jatikarya, meski lingkungan sekolah dinyatakan rawan longsor, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan seperti biasa. Anak-anak tetap bermain namun mereka dilarang untuk bermain dibagian belakang sekolah. Sebab, di sana ada lubang lebar sedalam sekitar empat meter.
Bangunan sekolah yang baru digunakan untuk kegiatan belajar mengajar awal 2004 ini berdiri di samping galian. Dinding bangunan sekolah, tepat di samping galian yang jaraknya sekitar 50 sentimeter saja. Tampaknya, tebing makin terkikis dengan adanya guyuran hujan terus-terusan belakangan ini. Galian itu lebarnya sekitar dua hektare.
Menurut Affandy, yang mendapat laporan dari pihak kelurahan Jatikarya, tanah di sekitar bangunan SDN itu dikeruk oleh ahli waris pemilik lahan, sehingga kekuatan bagian belakang gedung sekolah dan kantor kritis. Karena itu, lebih baik tempat belajar murid segera dipindahkan daripada di tengah perjalanan nanti mendapat tuntutan dari pemilik lahan. siswanto





