Mendengar Nama Orang Tua Angkat, Tubuh Ratih Menggigil
Sabtu, 11 Desember 2004 | 17:20 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Wajah Ratih Kurnia Yuspita, 7 tahun terlihat amat tenteram dipelukan ayah kandung, Edi Junaedi, 49 tahun. Sabtu (11/12) pagi, Edy datang untuk menjemput Ratih setelah mengetahui anaknya dianiaya, disunduti rokok, dan terakhir diseterika oleh orang tua angkat sehingga sebagian dadanya melepuh.
Isak tangis bersedu sedan. Air mata menderai dari anak dan bapak. Mereka berpelukan erat melepaskan kerinduan yang mendalam. Para ibu dan bapak yang kebetulan menunggu kedatangan Edi di rumah ketua Rt 009/010 Perumahan Kartika Wanasari Blok E 1 juga larut pada suasana haru biru itu.
Ratih yang kini duduk di kelas 2 SDN Kartika Wanasari XIII, Cibitung, menjadi korban kekejaman orang tua asuh. Kedua orang tua yang mengasuh Ratih adalah Tita Rostita, 40 tahun Pegawai Negeri Sipil (PNS) di SMPN Cikarang Barat dan Ayi Yusuf Hidayat, guru salah satu STM Negeri Cibitung dan guru di STM Wijaya Karya.
Penderitaan gadis kecil yang ditinggal ibunya bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia di Arab Saudi sejak dua tahu lalu, diketahui Edi dari salah satu saudara yang melihat acara di televisi. Mengetahui adanya tindakan yang dinilai di luar batas itu amat mengejutkan Edi yang sehari hari bekerja sebagai buruh bangunan.
"Saya enggak nyangka, mereka kan guru yang seharusnya mendidik anak. Selama ini, saya pikir diasuh oleh pendidik, masa depan anak saya akan lebih baik," kata Edi. Sebenarnya, Rostita dan Yusuf masih ada ikatan darah dengan Edi sehingga ketika setahun lalu, kedua orang itu meminta untuk mengasuh Ratih, langsung diizinkan.
Latar belakang keluarga yang kurang mampu dan keingingan kuat mengembangkan pribadi anak, keluarga Edi melepaskan Ratih untuk ikut keluarga Rosita dan Yusuf di Perumahan Kartika Wanasari Blok E 1 Rt 009/010 No. 28, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi.
Sambil memeluk Ratih di bangku ruang tamu rumah Ketua Rt bernama Kartaman yang sejak kasus penganiayaan terungkap Kamis (9/12) lalu menampung Ratih, Edi --yang pernah bekerja di PT Yala Perkasa milik anak bekas Presiden Soeharto, Tutu--- mengisahkan panjang lebar awal mula bisa diasuh keluarga Rosita.
Dua tahun lalu, ibu kandung Ratih bernama Kesih berangkat ke negeri Arab Saudi untuk mengadu nasib sebagai TKI. Saat berangkat, Kesih meninggalkan Ratih dan Restu. Restu saat itu masih berusia 10 bulan. Sebenarnya keberangkatan ke Arab itu sempat menjadi perdebatan, tapi demi kebutuhan perut dan mengubah nasib, Kesih bertekad berangkat.
Kondisi itu membuat Edi sempat kelabakan. Edi yang sebelum kawin dengan Kesih sudah memiliki satu anak, Lucky bekas mahasiswa Universitas Bung Karno Jakarta, itu akhirnya mencoba memintah ibunya (nenek Ratih) untuk mengasuh. "Tapi karena alas an repot dan tidak bisa ke sawah, nenek tidak mau mengasuhnya," kata Edi.
Karena keluarga di daerah Karawang, Jawa Barat, itu tidak bisa membantu mengasuh anak-anak itu, Edi membawanya ke keluarga mertua di daerah Sumedang, Jawa Barat. Di daerah ini, Ratih sempat disekolahkan di sekolah dasar. "Di sana Ratih tidak punya teman, dia enggak betah, kasihan," tutur Edi. Restu diasuh oleh keluarga ini.
Karena tidak betah di Sumedang, dititipkan lagi di keluarga lain di daerah Cikampek. Di sini pun Ratih tidak betah karena tidak punya teman bermain. Selain itu, pertimbangan untuk membawa Ratih pindah lagi, Edi melihat di keluarga Cikampek, Ratih tidak banyak berkembang dalam hal pendidikan.
"Kalo disana, dia enggak masuk sekolah dibiarin aja, bolos sekolah enggak ada yang menasehati, saya takut dia tidak berkembang," kata Edi. Setelah itu, Ratih dibawa ke daerah Pekayon Bekasi, tempat tinggal Edi selama merantau. Tidak lama setelah di Bekasi, keluarga Rosita dan Yusuf berniat mengasuh Ratih.
Rosita dan Yusuf masih ada talian darah dengan Edi. selain itu, kedua orang ini juga guru di sekolah favorit sehingga dengan pertimbangan matang, Ratih pun diserahkan ke pasangan suami istri yang belum dikaruniai keturunan itu. "Mereka berjanji mau mengasuh dengan baik, juga untuk nemenin Reni, anak pungut juga," kata Edi.
Awal 2004 lalu, Ratih tinggal bersama keluarga Rosita dan Yusuf. Ratih pun disekolahkan di SDN Kartika Wanasari XIII, Cibitung. Awalnya memang tidak ada tidak terdengar ada masalah di keluarga itu. Setiap seminggu sekali atau paling lama dua minggu sekali, Edi menjenguk Ratih.
Namun, sejak tiga bulan diasuh, mulai ada perubahan sikap keluarga Rosita. Sebab, pasangan suami istri itu menyarankan supaya Edi tidak sering-sering menengok Ratih. Alasannya, supaya Ratih tegar dan tidak goyah selama diasuh. "Katanya biar enggak goyah, jadi tidak boleh sering-sering," ujar Edi.
Setelah itu, Edi hanya menengok sebulan sekali atau dua bulan sekali. Perubahan sikap mulai terjadi pada Ratih sejak enam bulan. Sebab, wajah ratih terlihat kesusahan dan tertekan. "Saya mulai curiga, tapi enggak berani Tanya, tapi saya merasakan ada sesuatu pada anak saya," tutur Edi.
Makin lama, Edi pun mengetahui dari cerita-cerita Ratih. Ratih dan Reni kerap kali dimarahi dengan kasar oleh kedua orang tua asuh. Apalagi saat disuruh mengerjakan sesuatu tapi ditolak, tamparan, pukulan bahkan sundutan rokok selalu dilampiaskan ke kedua anak itu.
"Tapi, meski saya tahu ada bekas-bekas, enggak begitu saja percaya kata-kata anak-anak, apalagi orang tuanya menimpali cuma kecelakaan biasa," kata Edi. Bahkan, pernah suatu hari ada luka lebar di paha Ratih, tetapi orang tua asuhnya mengatakan itu akibat knalpot motor.
Ratih sendiri mengakui selama tinggal di rumah orang tua asuhnya selalu dianiaya. Yang membuatnya menjadi tertekan adalah siksaan berupa pukulan, sundutan rokok dan dua kali di seterika. "Sebelumnya paha saya ditempeli setelika, yang kedua ya yang kemaren itu," kata Ratih.
Ratih juga menceritakan, Reni juga mengalami hal yang sama. Di bagian punggungnya sering disundut rokok. Tapi karena Reni selalu diancam supaya tidak bercerita, selamanya Reni pun tidak pernah mengadu ke orang lain. "Kalau nangis kita dibekap mulutnya dan supaya tidak cerita, enggak boleh cerita sama bapak juga," kata Reni.
Bahkan, boneka milik Ratih yang dibelikan ibunya pun dibuang oleh Rosita. Kelakuan kasar pasangan suami istri itu selama ini tidak diketahui oleh tetangga. Sebab, mereka adalah seorang guru. "Anak-anak itu juga tidak boleh keluar, pintunya dikunci terus," kata nyonya Kartaman ditemui di rumahnya.
Tetangga mengetahui setelah Kamis lalu, ketika Ratih mengadu ke Sulastri. Sulastri mengatakan, Kamis pagi sekitar pukul 07.30, Ratih mengeluh kalau karena diseterika Tita. "Dia ngadu abis disetrika ibu angkat. Saya kaget langsung saya buka bajunya dan ternyata betul ada luka bakar di dadanya," kata dia.
Setelah itu, warga melapor polisi. Dari hasil visum et repertum, di tubuh Ratih terdapat luka-luka bekas pukulan, sundutan rokok dan seterika. Rosita dikenakan pasal 351 KUHP diancam penjara dua tahun empat bulan dan dikenakan Undang-undang Perlindungan Anak No. 23 tahun 2002 pasal 80 dengan ancaman kurungan 5 tahun.
Namun yang membuat keheranan warga, polisi hanya menetapkan Rosita sebagai terangka dalam kasus ini. Padahal, dari pengakuan korban, Yusuf jelas-jelas terlibat dalam penganiayaan. Kemudian, yang diusut juga hanya penganiayaan terakhir yakni penyeterikaan. Penganiayaan yang menimpa anak asuh lain, Reni tidak diusut.
Nyonya Kartaman dan sejumlah warga lain yang ditemui wartawan mengatakan ketika Rosita dan Yusuf akan diciduk, di depan rumah dan disaksikan ketua Rt Kartaman dan warga lain polisi secara sembunyi-sembunyi menawarkan pilihan ke pelaku. "Mau susah atau mau gampang," kata nyonya Kartaman.
Tawaran polisi itu membuat warga bertanya-tanya keseriusan mengungkap kasus penganiayaan anak dibawah umur ini. Warga sendiri saat ini mempertanyakan ketegasan polisi untuk mengusut kasus ini. Mereka tidak habis pikir, mengapa hanya Rosita yang dipenjara, sementara Yusuf kini tidak diketahui keberadaannya.
Menanggapi hal ini, Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Kabupaten Bekasi, Ajun Komisaris Polisi Whisnu Hermawan mengatakan, untuk membuktikan Yusuf menjadi tersangka tidak mudah sebab selama pemeriksaan tidak ada pengakuan dari Yusuf. "Tidak ada pengakuan dari Yusuf, tersangkanya ya Rosita," kata dia singkat.
Kini, Edi dan Ratih, termasuk warga lain bersyukur, meski masih ada ketidak adilan, setidaknya kasus penganiayaan itu cepat-cepat diketahui sehingga untuk sementara waktu kemarahan warga diobati dengan dijebloskannya Rosita ke LP wanita Pondok Bambu. Tapi warga dan Ratih tetap berharap Yusuf diperiksa karena terlibat.
Yusuf kini tidak diketahui keberadaannya. Rumahnya yang berlantai dua itu terkunci dari dalam. Namun, yang teramat membekas dalam kejadian ini adalah Ratih mengalami trauma. "Sekarang kalo ada orang ngobrol di luar dan nyebut nama Ita (Rosita atau Yusuf) Ratih langsung gemeteran dan takut, lalu bilang enggak mau, enggak mau (enggak mau diajak)," kata nyonya Kartaman.
Siswanto-Tempo




Komentar Anda :