Walikota Tinjau Limbah Busa di Pekayon
Senin, 13 Desember 2004 | 13:42 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Walikota Jakarta Timur Koesnan Abdul Halim meninjau lokasi Situ Tipar yang selama ini dikeluhkan warga Pekayon sebagai sumber limbah busa.
Warga Pekayon, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur mendesak pihak Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) segera mengumumkan hasil evaluasi penelitian laboratorium BPLHD DKI terhadap limbah busa yang kerap menimbun rumah warga setiap hujan turun.
Menanggapi keluhan warga, Koesnan mengatakan bahwa pihak Pemerintah Kota Jakarta Timur (Pemkot Jaktim) selama ini tidak membiarkan masalah tersebut. "Setiap ada keluhan kami langsung melakukan penelitian-penelitian," komentar Koesnan saat berdialog dengan warga.
Menurut Koesnan, masalah tersebut sangat kompleks karena menyangkut kepentingan dua wilayah yaitu Depok (Jawa Barat), selaku pemilik Situ Tipar dan pihak yang berwenang menegur industri yang ada di sekitar Situ, dan DKI Jakarta sebagai pihak yang menerima dampak dari pembuangan limbah busa dari Situ Tipar.
Ia menjelaskan, hasil kesimpulan sementara limbah busa tersebut lebih banyak bersumber dari bahan semacam deterjen. "Kami tidak bilang itu dari rumahnya rakyat."
"Bisa saja suatu perusahaan memakai deterjen," tambahnya.
Pemkot Jakarta Timur sejauh ini belum bisa memastikan dari mana sumber limbah tersebut. "Karena banyak pabrik dan industri yang dilalui aliran Situ."
Muchdarisin Kasi Penanggulangan Perusakan Sumber Daya Alam BPLHD Jaktim membenarkan, KLH sampai hari ini belum dapat memastikan apakah limbah busa tersebut berasal dari deterjen atau bukan.
Pekan lalu, BPLHD Jakarta Timur menyatakan bahwa hasil sementara penelitian laboratorium BPLHD DKI Jakarta bahwa unsur dominan yang terdapat dalam sampel air Situ Tipar adalah deterjen.
"Tapi hasil tersebut belum kami evaluasi lebih lanjut," papar Ardian Prahara, Kasi Pelayanan dan Penanganan Sengketa Lingkungan BPLHD Jaktim yang juga merupakan salah satu anggota tim gabungan pemantau limbah busa di Pekayon, pekan lalu.
Menurut penuturan beberapa warga, limbah busa
tersebut menyebabkan air sumur ikut tercemar. "Awalnya air memang terlihat bersih, tapi lama kelamaan warnanya berubah jadi biru kehitam-hitaman," papar Tori, salah seorang warga yang tinggal di RT 07/07 kepada wartawan saat ditemui di kediamannya. agus supriyanto





