RSUD Bekasi Bantah Lalaikan Sakun

Rabu, 15 Desember 2004 | 17:58 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bekasi menolak dituding lalai merawat Sakun, 60 tahun, warga Kampung Cinini, Desa Sumber Mulya, Kecamatan Haur Geulis,Indramayu, Jawa Barat. Sakun menderita luka serius di kepala dan akhirnya tewas setelah enam jam berada ruang Unit Gawat Darurat (UGD).

“Kalau kondisi medisnya parah, pasien akan tetap dirawat di UGD sampai kondisinya mulai membaik, pasien itu baru akan dipindahkan ke ruang inap,” begitu penjelasan secara umum yang diberikan Kepala Sub Bagian Hukum dan Informasi RSUD Kota Bekasi, Herry Suherman, Rabu (15/12).

Penanganan medis yang dilakukan perawat terhadap Sakun di UGD menurut pihak rumah sakit dinilai sudah benar dan sesuai prosedur medis, kata Herry. Herry membantah dikatakan, RSUD diskriminatif dalam menangani Sakun yang tidak memiliki uang sepeser pun. “Kita melayanai sebagaimana mestinya, kalau memang meninggal itu memang takdir,” kata dia.

Sakun yang ditemukan petugas kereta api (KA) Stasiun Bekasi, Affandiyanto di tak jauh dari rel kereta api jurusan ke Jakarta Selasa (14/12) sekitar pukul 14.15 WIB, menderita luka memar di bagian kepala sehingga pingsan berkepanjangan. Oleh petugas, Sakun dibawa ke RSUD Kota Bekasi.

Sakun dirawat di UGD. Pria yang tidak meiliki uang dan belum diketahui sanak keluarganya, akhirnya tewas di UGD sekitar pukul 20.30 WIB. Menurut Herry, pertimbangan RSUD belum memindahkan ke ruang inap yang lingkungannya jauh berbeda dengan UGD yang pengap karena menunggu keluarga.

“Rumah sakit juga tidak bisa bertindak gegabah. Menunggu di UGD supaya keluarganya bisa tahu dulu pasien, tapi, ternyata sampai meninggalnya dia, keluarga juga belum menengok. Perlu diketahui kita memang punya prosedur seperti itu,” kata Herry.

RSUD sebenarnya berharap pihak kepolisian Sektor Bekasi Utara mengabarkan ke keluarga Sakun. Pihak RSUD sudah melimpahkan tanggung menjemput keluarga korban. “Korban kan punya KTP, mungkin aja polisi ngecek dulu keluarganya supaya mengetahui dulu. Kalau itu didapatkan kita juga menunggu,” kata Herry.

Polisi sendiri menyebut sudah berusaha memberitahukan pihak keluarga Sakun di Indramayu, Jawa Barat. Menurut Kepala Unit Reserse dan Intelijen Kepolisian Sektor Timur, Inspektur Satu Rajiman, polisi sudah memberitahu petugas di Polres Indramayu, Jawa Barat. Yang penting kita sudah memberitahu polisi di di Indramayu,” kata dia.

Polisi sendiri mengaku tak tahu menahu persoalan yang dihadapi Sakun. Misalnya untuk merekomendasikan Sakun selekas mungkin mendapat perawatan layak di ruang inap. Hal itu tidak dilakukan. “Kan kalau korban meninggal, meski tidak diketahui keluarga, nanti akan diurus rumah sakit, dikubur massal,” kata dia.

Diakui juga pelayanan terhadap pasien tidak mampu juga dipengaruhi oleh minimnya anggaran keluarga miskin (Gakin). Tahun anggaran 2004, RSUD memperoleh bantuan dana RP 1,5 miliar untuk Gakin. “Itupun masih kurang. Gakin itu kan banyak pak. Belum pasien terlantar,” kata Herry.

Siswanto-Tempo

TOPIK






Komentar Anda

  • RSUD Bekasi adalah Rumah sakit komersil
    RSUD Bekasi kayanya gak layak disebut Rumah sakit umum.....lbh cocok jadi Rumah Penyakit Komersil....selalu banyak pasien yang dirugikan......adalagi dr.Waluyo yg dsana, ditanya tentang hasil analisa pasien yang pendarahan 2x malah jawabannya "tanya aja sama obatnya". Itu dokter gak tau etika....kayanya semua pekerja dsna gak ada etika deh
    Pengirim : benny di bekasi
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: