Dalam Sebulan Penderita AIDS Jakarta Bertambah 100 Orang

Selasa, 21 Desember 2004 | 19:00 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Dalam sebulan di wilayah Jakarta rata-rata ditemukan minimal 100 penderita HIV baru. Angka tersebut dilaporkan dari tiga rumah sakit yang memberikan pelayanan medis terhadap penderita HIV di Jakarta. "Dari jumlah itu sekitar 70 hingga 80 persen penderita mengalami penularan karena pemakaian Narkoba," ujar Zubairi Djoerban, Ketua Masyarakat Peduli Aids Indonesia, disela Seminar tentang Dukung Perempuan Melawan Aids, di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Selasa (21/12).

Perkembangan infeksi virus berbahaya ini kepada perempuan dinilai makin memprihatinkan. Dari hari kehari peningkatan penularan pada golongan ini semakin meningkat. Di Indonesia peningkatan jumlah perempuan pengidap HIV dirasakan sangat cepat. Jika pada September 2001 jumlah perempuan adalah 793 dari total penderita 2313 orang, maka sampai dengan September 2004 jumlah tersebut meningkat menjadi 1279 dari total 5700 orang. Sementara diperkirakan jumlah penderita terifeksi HIV di Indonesia saat ini mencapai sekitar 90-130 ribu orang.

Dari jenis kelamin perempuan dinilai lebih rentan tertular HIV/ AIDS di banding laki-laki. Menurut Zubairi ada dua faktor utama yang mempengaruhi kerentanan perempuan terhadap penularan penyakit tersebut. Pertama, kerentanan biologis. Hasil penelitian risiko perempuan tertular HIV melalui hubungan seksual adalah 2-4 kali lebih besar dibanding laki-laki. Selain HIV perempuann juga rentan terhadap penularan penyakit PMS (Penyakit Menular Seksual) lainnya. "Hal ini disebabkan permukaan (mukosa) genital perempuan lebih luas dibanding permukaan alat kelamin laki-laki," katanya.

Selain itu menurut dia konsentrasi virus di dalam air mani jauh lebih tinggi dibanding konsentrasi HIV di cairan vagina. Kedua hal ini pula yang dinilai Zubairi menyebabkan penularan HIV dan PMS lebih efektif dari laki-laki ke perempuan dibanding sebaliknya. Dari segi usia, perempuan dengan usia lebih muda ternyata lebih rentan, jika dibanding dengan perempuan dengan usia lebih tua. Hal itu menurut Zubairi karena pada usia muda lebih sedikit memproduksi lendir pada alat genitalnya. Sehingga lebih mudah erosi, terluka dan infeksi saat berhubungan seksual.

Kerentanan kedua, pada perempuan adalah kerentanan sosial ekonomi. Seorang wanita yang masih tergantung secara ekonomi kepada seorang suami. Sulit untuk mengontrol agar dirinya tidak terifeksi. Sebab dirinya tidak bisa menolak berhubungan atau meminta suami mengenakan alat pelindung saat dirinya mencurigai suaminya terjangkit virus HIV.

Selain faktor ekonomi kerentanan perempuan juga disebabkan oleh minimnya pengetahuan mereka tentang HIV/AIDS berikut cara penularan dan pencegahannya. "Padahal tanpa mengetahui cara penularan dan pencegahannya mustahil dapat melindungi diri dari risiko tertular," katanya.

Melihat kerentanan yang sedemikian besar pada perempuan, menurut Zubairi salah satu jalan untuk bisa menanggulangi keadaan itu adalah dengan pemberdayaan perempuan. Beberapa program konkrit diusulkan Zubairi untuk mendesak dilakukan adalah dengan mengatasi kebodohan, meberikan layanan pengobatan dan layanan dukungan untuk Odha perempuan, mengembangkan norma masyarakat, memperdayakan ekonomi perempuan dan perubahan kebijakan pemerintah.

Ramidi-Tempo

TOPIK






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: