|
Warga Demo Tolak Pembongkaran Paksa
Selasa, 18 Januari 2005 | 12:37 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Sekitar 150 warga Lorong W Barat, Kelurahan Tanjung Priok melakukan aksi unjuk rasa di depan Kantor Walikota Jakarta Utara. Mereka menuntut Pemerintah Walikota Jakarta Utara membatalkan rencana pembongkaran terhadap rumah mereka, yang rencananya bakal dibongkar tiga hari mendatang.
Aksi massa dimulai sekitar pukul 10.30 WIB. Mereka terlebih dahulu melakukan long march dari kediaman mereka di Jalan Enggano Utara RT07/16 menuju Kantor Walikota yang hanya berjarak dua kilometer.
Menurut perwakilan warga, Sujono, aksi mereka dipicu oleh Surat Perintah Bongkar (SPB) Walikota Jakarta Utara tertanggal 17 Januari 2005 lalu. Surat bongkar tersebut berbunyi, "Agar warga segera membongkar dan mengosongkan seluruh bangunan di atas lokasi refungsi rel kereta api dari Stasiun Pasoso menuju Jakarta International Container Terminal Tanjung Priok, selambat-lambatnya 3X24 jam setelah dikeluarkannya SPB ini."
Lebih lanjut surat itu menyebutkan, jika pengosongkan itu tidak dilakukan, maka pemerintah Walikota Jakarta Utara akan melaksanakan pembongkaran, dan segala akibat yang ditimbulkan menjadi tangung jawab warga. Dalam surat No.78/073.554 tersebut dikatakan agar warga membongkar bangunan yang berjarak 3 meter dari rel.
Menurut Sujono, warga Lorong W Barat, warga ngotot bertahan karena ada diskriminsi dalam pembongkaran itu. Di situ, kata Sujono, ada kompleks ruko Enggano milik Pelindo yang hanya berjarak 1,5 meter dari rel. Nah, rumah warga kalau diukur-ukur berjarak sekitar dua meter dari rel. Jadi, "Tuntutan kita sederhana, samakan dengan ruko," ujar Sujono.
Saat ini aksi unjuk rasa yang juga diikuti oleh para ibu-ibu itu masih berlangsung. Aksi ini mendapat perhatian pengguna jalan di Jalan Yos Sudarso sehingga memperlambat laju kendaraan. Sementara ratusan aparat yang terdiri dari Pamang Praja dan Polres Jakarta Utara melakukan penjagaan di sekitar aksi.
Para pengunjuk rasa membawa spanduk yang diantaranya berbunyi, "Om walikota bergayalah pejabat jangan bergaya preman", "Walikota pejabat negara bukan makelar tanah,", "Kasian deh pak wali kalah sama Pelindo," "Kami akan selalu siap mempertahankan kesucian, kemerdekaan segala bentuk penjajahan". Sementara aksi berlangsung, sekitar 10 orang perwakilan warga sedang menunggu Walikota Jakarta Utara Effendi Anas untuk mengadakan pertemuan di kantor walikota.
Tito Sianipar
INDEKS BERITA LAINNYA :
|