|
Bekasi
Banjir Datang, Pemerintah dan DPRD Saling Tuding
Rabu, 19 Januari 2005 | 18:55 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Banjir yang menimpa sebagian besar lokasi perumahan-perumahan di Kota Bekasi menjadi ajang saling menyalahkan. Komisi B DPRD Kota Bekasi kecewa terhadap penataan kota karena fasilitas umum dan social (fasum/fasos) di perumahan Kota Bekasi. Pemkot menyalahkan warga yang sembarangan menempati bantara kali.
"Ini karena penataan fasum dan fasos di perumahan-perumahan yang buruk sehingga ketika air datang, saluran-saluran air tidak dapat berjalan dengan baik, begitu juga lahan resapan yang habis," kata Sekretaris Komisi B Muhammad Hasyim Effendy kepada Tempo, Rabu (19/1).
Affandy mengaku kecewa dengan ekskutif yang dinilai tidak tanggap terhadap penataan kota. Akibatnya, setiap kali musim penghujan, selalu saja muncul banjir atau genangan air. "Di rumah saya sendiri di Mas Naga juga jadi langganan banjir, itu satu contoh, saya sering minta pendapat pemerintah, tapi belum ada tanggapan," kata dia.
Selama ini, pemkot dinilai main-main dalam penataan kota, terutama untuk perumahan-perumahan. Sebenarnya dewan berharap, setiap kali pemkot mengusulkan dana crash program itu serius untuk kepentingan penanganan banjir. "Pemerintah dan dinasnya, seharusnya memiliki konsep penanganan banjir yang jelas," kata dia.
Komisi B, saat ini tengah melakukan pemantauan di lapangan terkait dengan datangnya banjir di sejumlah perumahan. Dari catatan Affandy, perumahan seperti Mas Naga, Harapan Baru Regency, Perum Pejuang sebagian besar kawasan tergenang air. "Ini bener-bener serius, rata-rata genangan 40 sampai 60 sentimeter," ujar Affandy.
Sedangkan Kepala Bidang Pengairan Dinas Pekerjaan Umum Kota Bekasi, Ruspendi mengatakan, banjir yang menimpa sebagian besar perumahan disebabkan kondisi geografis Kota Bekasi lebih rendah. "Kebanyakan perumahan itu didaerah cekungan, jadi memang sulit mengalirkan air, karena drainase juga buruk," kata dia.
Dia menilai, pihak pengembang tidak memperhatikan lingkungan ketika memulai pembangunan perumahan. Dicontohkan, sejumlah perumahan di daerah Rawa Lumbu, pada awalnya lahan pembangunan merupakan kawasan resapan air. "Karena pengembang membangun di daerah resapan," kata dia.
Selain ulah pengembang yang dinilai ugal-ugalan, penyebab banjir juga terjadi karena daerah aliran sungai sebagian besar telah menyempit dan mendangkal. "Sekarang ini kan juga saluran-saluran air menyempit karena ulah penduduk juga. Dipakai untkut tempat tinggal. Terutama di bantaran sungai dibangun rumah," ujar dia.
Selama ini, petugas kata dia, sudah melakukan normalisasi daerah aliran sungai. Meski diakui Ruspendi belum maksimal dilakukan, masalahnya, sebagian warga yang tinggal di bantaran sungai meminta ganti rugi. "Karena mereka juga mengharapkan ada uang ganti rugi untuk pembebasan. Jadi berat di pembebasan juga," kata Ruspendi.
Dari pemantauan Tempo lokasi bantaran sungai yang ditempat warga untuk tempat tinggal, antara lain di sekitar sungai Buaran, Sungai Cakung dan sebagian sungai Bekasi, sekitar sungai di Jati Asih. Akibatnya, sungai terlihat menyempit. Sebagian sungai lagi terlihat pendangkalan oleh tanah.
Siswanto-Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|