Omset Penjualan Hewan Kurban Menurun
Jum'at, 21 Januari 2005 | 20:27 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Sejumlah pedagang hewan kurban mengeluhkan omset penjualan hewan kurban mereka yang sepi dari pembeli. Menurut sebagian pedagang, sepinya pembeli dikarenakan perhatian masyarakat yang terserap untuk memberikan bantun korban gemap dan tsunami di Aceh dan Sumatera Utara.
Hidayat, 31 tahun, sudah melakoni profesi sebagai pedagang sapi secara turun temurun. Pada hari
biasa, ia beserta kerabatnya bekerja hanya sebagai pengirim sapi potong asal Klaten, Jawa Tengah.
"Untuk dijual ke Bandung dan Jakarta," katanya kepada Tempo, Jumat (21/1). Perminggu Hidayat
bisa menjual sampai 51 ekor.
Untuk hari raya Idul Adha, Hidayat secara khusus datang ke Jakarta dan menjual langsung
sapi-sapinya. Ia membawa 80 ekor sapi untuk dijual dalam Idul Adha 1425 H ini. Sejak Rabu (5/1),
Hidayat telah berhasil menjual 77 ekor. "Harga per ekornya berkisar Rp 6,5 juta," katanya.
Walau telah menjual 77 ekor, Hidayat mengaku hasil tersebut menurun dibanding tahun
sebelumnya. Dengan jumlah sapi yang sama (80 ekor), Hidayat sukses menjual habis sapinya pada H -3
Idul Adha. "Penjualan menurun dibanding tahun lalu," ujarnya.
Menurut Hidayat, penurunan omset penjualannya disebabkan dua hal. Pertama, kenaikan harga daging
dari Rp 35 ribu perkilogram menjadi Rp 45 ribu. "Karena harga naik, kemampuan orang membeli
jadi turun," ujarnya fasih.
Sementara penyebab kedua menurut Hidayat, adalah faktor bencana alam berupa gempa dan tsunami yang
melanda Aceh dan Sumatera Utara. Bencana yang menyerap perhatian dunia ini, juga telah menyerap
perhatian sebagian masyarakat Indonesia. "Sehingga orang lebih banyak menyumbang ke sana,"
tuturnya.
Walau omsetnya menurun, Hidayat patut bersyukur karena sapinya sebagian besar sudah terjual. Hal
tersebut, kata Hidayat, karena langganannya masih tetap mencarinya yang tiap tahun membuat tenda
penjualan sapi kurban di Jalan Rawa Badak Raya, Tanjung Priok.
Hal serupa juga terjadi pada salah seorang pedagang kambing kurban. Enjuh, 38 tahun, hanya bisa
menjual satu dari sembilan ekor kambingnya sejak Jumat (14/1). "Biasanya tidak begini," keluhnya.
Menurut pria asal Banten yang sehari-harinya bekerja sebagai petani kontrak ini, penjualannya pada
tahun lalu masih lebih baik. Dia berhasil menjual 7 ekor kambing dari 15 ekor yang dibawanya. "Tahun ini kurang bagus," kata Enjuh yang berdagang kambing secara musiman.
Tito Sianipar-Tempo





