|
Jakarta
DKI Meminimalisir Banjir dengan Pompa
Senin, 24 Januari 2005 | 13:21 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Dinas Pekerjaan Umum (DPU) DKI Jakarta mengantisipasi banjir dengan menahan ketinggian air waduk pada batas (low water level) seminimal mungkin. ?Caranya dengan memompa terus-menerus,? kata Kepala Seksi Pemeliharaan dan Pengendalian Air Subdinas PSDA dan Pantai DPU Provinsi DKI Jakarta, Maman Suparman, kepada Tempo, Senin (24/1).
Antisipasi seperti ini dilakukan agar pada saat volume air bertambah akibat hujan yang datang dari kiri dan kanan waduk, maka air tidak langsung meluap ke jala, melainkan masuk ke waduk dulu. ?Setelah masuk waduk, air dalam waduk pun terus dipompa,? kata Maman. Jadi, durasi banjir dapat diusahakan tidak berlangsung terlalu lama. Untuk memaksimalkan antisipasi ini, pengerukan waduk pun dilakukan. Waduk yang sudah dikeruk antara lain waduk Setiabudi.
Selain itu, untuk anggaran tahun 2005, dinas pekerjaan umum memperbaiki tanggul-tanggul yang kurang tinggi sepanjang Banjir Kanal Barat (BKB). Seperti tanggul Jatipinggir. Sedangkan, untuk pembangunan Banjir Kanal Timur (BKT), pemerintah provinsi masih terbentur pada masalah pembebasan lahan sepanjang jalur BKT. ?Padahal jika BKT sudah jadi, 16 wilayah timur akan relatif aman,? kata dia. Diantaranya, Pulo Mas, Cipinang, Kebon Nanas, Kelapa Gading, dan Malaka. Sampai saat ini, menurut Maman, titik rawan banjir ada di 78 kawasan.
Normalisasi kali seperti kali Angke dan Pademangan juga dilakukan untuk mengatasi banjir. Dinas Pekerjaan Umum juga melakukan perbaikan pompa seperti di Setiabudi, Pluit, dan Cideng. Juga pembangunan dan penambahan pompa seperti di Sunter Utara dan Wijaya Kusuma. Antisipasi diatas adalah upaya struktur penanggulangan banjir 2005. Upaya struktur ini berkaitan dengan pekerjaan konstruksi.
Sedangkan upaya non strukturnya, Dinas Pekerjaan Umum melakukan pemantauan ketinggian air di enam hulu kali yaitu kali Cipinang, Sunter, Ciliwung, Krukut, Pesanggrahan, dan Angke, yang paling rawan adalah Ciliwung. Selain itu, piket banjir juga dilaksanakan dari tingkat DPU provinsi, SDPU lima wilayah kotamadya, sampai seksi PU kecamatan. Dari tingkat tertinggi informasi mengenai ketinggian air disalurkan melalui early warning system. Selain itu, BMG-pun setiap 12 jam atau jika terjadi cuaca ekstrim, selalu berkoordiansi dengan dinas pekerjaan umum.
Fanny Febiana-Tempo
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|