Pintu Air Manggarai Sudah Tidak Memadai
Rabu, 26 Januari 2005 | 17:17 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pintu air Manggarai, Jakarta Pusat, yang dibangun tahun 1920 masa pemerintahan Belanda, dinilai tidak memadai lagi menampung debet air sungai Ciliwung. Itulah sebabnya daerah sepanjang aliran sungai Ciliwung seperti Kampung Melayu, Bukit Duri, Gang Arus, Bidara Cina, Kampung Melayu kecil dan Kalibata menjadi langganan banjir setiap musim penghujan tiba
Menurut Kepala Proyek Induk Pengembangan Wilayah Sungai Ciliwung, Wahyu Hartomo, pintu air Manggarai memang didesain untuk menampung siklus hujan 100 tahunan yang debet airnya saat itu sekitar 250 meter kubik perdetik. Namun dalam perkembangannya dari tahun ke tahun debet airnya meningkat. Lonjakan debet air itu disebabkan oleh perubahan tataguna lahan dan kerusakan di daerah aliran sungai Ciliwung. "Ciliwung merupakan satu dari 60 sungai di Indonesia yang DAS(Daerah Aliran Sungai) nya mengalami kerusakan," katanya, ditemui Tempo, Rabu (26/1).
Berdasarkan hasil pengkajian pada tahun 1980, debet air yang melintas di pintu Manggarai mencapai 350 meter kubik perdetik, jauh pesat peningkatannya ketika pintu air itu dirancang oleh Belanda.
Dulu, kisah Wahyu, pembangunan pintu air Manggarai - yang terdiri dua pintu dengan lebar masing-masing 5,5 meter itu - berbarengan dengan pembangunan saluran banjir kanal barat yang melintas dari Manggarai ke Kali Adem. Kanal buatan itu bertujuan mengamankan wilayah Batavia kota, seperti kawasan Jakarta Kota hingga ke kawasan Gambir.
Ramalan banjir sudah ada sejak jaman Belanda.Ketika itu pemerintah Belanda membangun perkebunan teh yang luas disekitar kawasan Cisarua, Puncak. Dengan banyaknya kawasan dibuka untuk kebun teh itu, Belanda memprediksi air yang akan langsung masuk ke Ciliwung akan lebih besar. Sehingga mereka harus membangun saluran yang mengarahkan air langsung ke laut, hingga tidak menggenangi kawasan kota Jakarta.
Repotnya, dalam perkembangan selanjutnya i kondisi Ciliwung mengalami penyempitan di sana-sini. Sehingga, kata Wahyu, jangankan untuk menampung hujan periode 100 tahunan yang debetnya sekitar 600 meter kubik permenit, untuk menampung siklus hujan 50 tahunan (sekitar 480 meter kubik permenit) juga akan sulit.
Mengatasi kesulitan ini, pemerintah berencana membangun satu buah pintu tambahan di lokasi pintu Air Manggarai. Pintu air itu akan diletakan di sebelah kanan dari dua pintu yang ada. Pembangunannya memakan waktu dua tahun.
Dana yang dibutuhkan untuk membangun pintu selebar 6 meter dan terowongan air yang melintas dibawah rel kereta itu diperkirakan mencapai 20 miliar. "Saat ini detil desainnya telah selesai, tinggal menunggu realisasi anggaranya," ujar Wahyu.
Ramidi





