Air Banjir Kanal Timur Tidak Layak Untuk Diminum
Senin, 31 Januari 2005 | 02:45 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Hasil kajian Departemen Pekerjaan Umum terhadap lima sungai yang akan masuk Banjir Kanal Timur menunjukkan kualitas airnya jauh dibawah standar kesehatan.
Hasil analisis kualitas air yang diambil dari sungai Cipinang, Sunter, Buaran, Jatikramat, Cakung dan Blencong pada bulan September 2003 disimpulkan bahwa semua sungai tersebut tidak memenuhi baku mutu air sungai golongan D.
Air golongan D adalah air untuk keperluan pertanian, usaha industri listrik tenaga air dan tidak memenuhi syarat untuk keperluan air baku, perikanan dan peternakan.
Kondisi kualitas air yang buruk ini adalah dampak nyata dari perilaku masyarakat Jakarta yang tidak bisa memperhatikan lingkungan. Air di semua sungai di Jakarta berbau dan keruh hitam. Sampah dibuang ke kali dan hampir semua limbah rumah tangga juga sebagian industri dibuang ke kali.
Kapasitas saluran BKT diperhitungkan untuk mampu mengalirkan debit banjir dengan kala ulang banjir 100 (kapasitas debit maksimal 390 meter kubik perdetik) tahunan, sedangkan untuk inlet (debit masukan masing-masing sungai ke BKT) dengan hitungan banjir 25 tahunan (kapasitas debit maksimal 350 meter kubik perdetik).
"Masyarakat harus bisa menjaga lingkungan. Hiduplah dengan harmoni dengan air," kata Pitoyo Subandrio, Pimpinan Proyek BKT kepada Tempo, pekan lalu.
Menurut dia, untuk mengatasi rendahnya kualitas air harus dilakukan program kali bersih dan hidup baru dengan air tanpa harus dikumandangkan.
"Sungai-sungai di Jakarta (saat ini) dibiarkan menjadi tempat sampah terpanjang di dunia, tempat sebagian warga dan industriawan tak bertanggungjawab membuang sampah," kata Pitoyo.
Pitoyo mencontohkan, bentuk-bentuk rumah yang membelakangi sungai bisa dipastikan penghuninya membuang limbah ke sungai. "Perumahan sepanjang (tepi) BKT nantinya akan dibuat menghadap ke sungai untuk menghindari kebiasaan itu," kata Pitoyo. agus supriyanto





