Pengobatan Massal Kaki Gajah di 14 Desa di Bekasi
Kamis, 10 Februari 2005 | 15:34 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi akan menggelar pengobatan massal penyakit kaki gajah (filariasis) di empat belas desa endemis. "Setiap warga yang dinyatakan menderita penyakit kaki gajah di daerah itu akan mendapat pengobatan dan obat gratis," kata petugas khusus Bidang Penanganan Penyakit Menular pemerintah Kabupaten Bekasi, H.K. Jatnika, Kamis (10/2).
Keempat belas desa sasaran pengobatan massal itu adalah Desa Setia Asih (Kecamatan Taruma Jaya), Kebalen dan Kedungjaya ( Babelan), Jati Mulya (Tambun Selatan). Wanajaya (Wanasari), Kertamukti dan Sukajaya (Cibitung), Jatiwangi, Telaga Murni, dan Kalijaya (Cikarang Barat), Karang Satu dan Karangjaya (Karang Bahagia), Suka Dharma (Sukatani), dan desa di Cabangbungin.
Menurut Jatnika, pengobatan massal diberikan kepada setiap warga yang dalam darahnya hidup filariasis. "Obat yang diberikan adalah obat standar WHO yang dapat membunuh cacing filaria di dalam darah," ujarnya.
Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, kata Jatnika, telah secara teratur menggelar pengobatan massal filariasis. Ini pengobatan massal yang ketiga kalinya, sejak penyakit kaki gajah di Kabupaten Bekasi berhasil dipetakan pada 2003.
Menurut Jatnika, pengobatan massal di wilayah endemis kaki gajah dilakukan setahun sekali. "Pengobatan dilakukan hingga lima sampai 10 tahun sejak sebuah daerah ditemukan endemis," ujarnya. "Dengan pengobatan massal ini diharapkan mata rantai penyebaran kaki gajah dapat diputus," tambahnya.
Jatnika mengatakan sebuah daerah dinyatakan endemis bila dari 500 orang yang diperiksa ditemukan lima kasus (satu persen). Menurut Jatnika, dengan ditemukannya 14 desa di Kabupaten Bekasi sebagai endemis penyakit kaki gajah, seharusnya seluruh kecamatan di Kabupaten Bekasi (25 buah) mendapatkan pengobatan massal. "Tapi yang menjadi masalah kita adalah soal biaya pengobatan. Faktor biaya yang harus dikeluarkan itu yang menjadi masalah kita," ujar dia.
Jatnika menambahkan endemis kaki gajah terparah di Kabupaten Bekasi terdapat di Desa Kedung Jaya, Kecamatan Babelan, dengan jumlah penderita 3,59 persen. "Padahal, menurut standar WHO, ada satu persen penderita saja sudah dikelompokkan sebagai endemis. Jadi ini besar sekali," ujar dia.
Penyakit filariasis biasanya hidup di daerah dengan sanitasi lingkungan buruk seperti di Kabupaten Bekasi. DIsebut penyakit kaki gajah karena penyakit ini bisa membikin kaki membesar abnormal. Data yang diperoleh Tempo menunjukkan, selama 2004 jumlah pasien klinis penyakit kaki gajah di Kabupaten Bekasi sebanyak 53 orang.
Filariasis, ujar Jatnika, ditularkan melalui nyamuk. Tapi, filariasis jauh lebih gampang menyebar. "Karena seluruh jenis nyamuk dapat menularkan penyakit ini," kata Jatnika.
Pencegah filariasis, ujar Jatnika, sama seperti mencegah DBD. "Jagalah kebersihan lingkungan," ujar dia.
Siswanto





