Kota Bekasi Sudah Siaga DBD

Jum'at, 11 Februari 2005 | 16:29 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Dari minggu ke minggu jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Bekasi meningkat terus. Pada Februari ini tercatat lagi 63 kasus dan seorang meninggal. "Sekarang ini kasus terus meningkat, harus sudah diwaspadai dengan siaga DBD," kata Kepala Seksi Bidang Penanganan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Yasni Rufaidah, Jumat (11/2) kepada Tempo.

Penyakit DBD di Kota Bekasi menyergap siapa saja, tidak pandang bulu. Dari catatan Dinas Kesehatan Kota, umumnya pasien DBD adalah anak-anak di bawah 17 tahun. Karena itu, kata Yasni, pihak Dinas Kesehatan Kota terus menggalakkan upaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan terus meminta Puskesmas lebih teliti lagi dalam pengawasan lingkungannya.

Hingga Februari ini atau minggu keenam tahun 2005, tercatat sudah 133 kasus penderita DBD (70 kasus pada Januari dan 63 kasus pada Februari) dengan empat orang meninggal (tiga pada Januari, satu pada Februari). Jumlah penderita DBD, kata Yasni, kemungkinan besar masih banyak. "Sekarang ini kita masih menunggu laporan dari rumah sakit di Jakarta dan daerah di luar Bekasi," kata dia.

Banyak kasus belum terdata itu, kata dia, terjadi karena banyak pasien warga Bekasi yang berobat di rumah sakit ataupun Puskesmas di daerah lainnya. Yasni mencontohkan, pada Februari 2003 lalu total kasus melonjak mencapai 700. "Tahun lalu juga tiba-tiba kasusnya melonjak, karena banyak kasus belum dilaporkan. Setelah dilaporkan, jumlahnya ternyata banyak," kata dia.

Langkah yang dilakukan Dinas Kesehatan saat ini, kata Yasni, dengan cara PSN melalui penggalakan program menutup, menguras dan mengubur (3M). Upaya pengasapan (fogging) juga dilakukan untuk membunuh jentik nyamuk. "Tapi, sebenarnya yang terpenting adalah peran serta masyarakat menjaga lingkungannya," kata Yasni.

Dengan terjadinya peningkatan jumlah kasus DBD itu sebenarnya peran Dinas Kesehatan dan Puskesmas sudah bagus, karena sudah dapat mencatat dan memetakan kasus DBD di lingkungan masing-masing. "Sekarang ini, kita juga mengharapkan, jangan hanya menyalahkan petugas, tapi mari kita sama-sama menjaga lingkungan masing-masing," kata Yasni.

Lonjakan jumlah kasus DBD ini langsung ditanggapi dengan pengasapan di daerah yang dinyatakan rawan penyebaran (fogging focus). Dinas Kesehatan meminta Puskesmas lebih serius untuk menggerakkan lingkungan sekitar mengadakan kerja bakti membersihkan selokan, saluran air dan tempat-tepat rawan jentik nyamuk lainnya.

Peningkatan jumlah kasus itu, kata Yasni, terjadi karena faktor musim hujan. Dengan tingginya curah hujan, potensi air menggenang di lingkungan masyarakat sangat tinggi sehingga apabila masyarakat membiarkan genangan itu, jentik-jentik nyamuk berfoya-foya di sana.

Dengan terus meningkatnya jumlah kasus DBD, Wali Kota Bekasi Akhmad Zurfaih langsung menginstruksikan siaga DBD kepada masyarakat. Wali Kota mengatakan, program PSN kini diubah dan ditambah menjadi PSN plus. Plus itu, "Yang punya kolam, pelihara ikan pemakan jentik," kata dia.

Selain itu, untuk perlindungan dari serangan nyamuk DBD masyarakat diharapkan memasang kelambu pada kamar-kamar rumah. "Juga masyarakat, kalau bisa, melindungi diri lagi dengan mengoleskan obat antinyamuk di kulit," ujar Akhmad.

Pemeritah Kota Bekasi saat ini sudah mengucurkan dana penanggulangan DBD sebesar Rp 350 juta. Dana itu, antara lain, akan digunakan untuk mengadakan obat pengasapan, melakukan fogging focus di daerah rawan dan upaya mengaktifkan kelompok kerja nasional di Kota Bekasi yang tugasnya mengevaluasi dan memantau.

Yasni membenarkan sudah menerima dana sebesar Rp 350 juta itu. Dia mengharapkan, dana itu akan mencukupi kebutuhan pencegahan DBD. "Kami harap DBD tidak tambah terus, dana sebesar itu sebenarnya untuk estimasi 400 kasus saja, sedangkan sekarang ini sudah 133 kasus. Kalau terus naik kemungkinan tidak cukup dana itu," ujar dia.

Siswanto






Komentar Anda

Kirim