Kasus DBD Jakarta Selatan Turun Dibanding 2004
Jum'at, 11 Februari 2005 | 19:11 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kotamadya Jakarta Selatan tahun ini berkurang cukup drastis dibanding tahun 2004. Data Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan menunjukkan, total jumlah penderita DBD hingga Februari 2005 adalah 184 orang, sedang pada bulan yang sama tahun 2004, korban mencapai 574 orang. Jumlah ini turun sekitar 68%.
Petugas program DBD Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan, Aris Munandar, yang ditemui Tempo di kantornya, Jakarta, Jumat (11/2), menyatakan bahwa data tersebut diambil dari seluruh Puskesmas di Jakarta Selatan hingga 10 Februari 2005.
Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan, Jasmiati, menjelaskan bahwa penyusutan tersebut terjadi karena tahun ini mereka melakukan antisipasi lebih dini. "Kami belajar dari pengalaman tahun lalu. Jika dulu-dulu kami hanya melakukan sosialisasi, sekarang kami melakukan kampanye aksi," katanya.
Walaupun penyusutan itu cukup besar, Jasmiati menekankan agar warga tetap waspada. "Bisa saja jumlah itu tiba-tiba meledak, kita tidak bisa memprediksi," katanya. Semua itu, menurutnya, sangat bergantung pada kepedulian masyarakat pada lingkungan sekitarnya.
Sejak 12 November 2004, menurutnya, Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso telah mulai menggerakkan bulan bakti 3M (menguras, mengubur, dan menutup). Lalu, tambahnya, pada Januari 2005, Suku Dinas Kesehatan telah mengadakan kampanye di tempat-tempat strategis. Pada kampanye ini, mereka bekerja sama dengan mahasiswa Akademi Kesehatan Lingkungan dan petugas keamanan ketertiban dan perlindungan masyarakat. "Februari 2005 ini kami akan melaksanakan kampanye aksi ke institusi pendidikan," ujarnya.
Institusi pendidikan merupakan lapangan pertama yang mereka tuju, karena, "Merupakan tempat berkumpulnya orang dari berbagai wilayah. Sangat strategis karena mereka pasti akan menyampaikan informasi yang mereka peroleh ke kerabat atau tetangga," katanya.
Jasmiati telah menugaskan 75 stafnya untuk mengkoordinasikan kampanye aksi ini. Mereka menyebar ke 10 kecamatan dan 65 kelurahan di Jakarta Selatan. "Setiap kecamatan dan kelurahan dikoordinir satu orang," jelasnya. Orang-orang ini, menurutnya, akan menggerakkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan proses 3M di daerahnya masing-masing.
Pada kampanye aksi ini, menurut Jasmiati, para petugas akan melaksanakan penyuluhan dan turun langsung bersama siswa atau warga untuk mencari jentik nyamuk. "Nanti kalau ketemu, petugas akan memusnahkannya bersama siswa atau warga dengan melakukan 3M," kata dia.
Jasmiati lebih menekankan programnya pada proses antisipasi lewat PSN dengan gerakan 3M. Program ini, menurutnya, sangat penting untuk mengurangi penderita DBD karena membunuh cikal bakal penyebab penyakit DBD yakni nyamuk Aides aigepty. "Pengasapan itu hanya untuk membunuh nyamuk dewasa. Tapi kalau terlalu sering juga tidak baik karena nyamuk-nyamuk itu lama kelamaan akan kebal terhadap obat pengasapan," jelasnya.
Walau begitu, setiap Jumat Suku Dinas dan Dinas Kesehatan mengadakan aksi waspada kejadian luar biasa (KLB) DBD. "Semua daerah berstatus merah disemprot secara serentak pada Jumat pagi," ujarnya.
Suliyanti Pakpahan





