Perindukan Nyamuk DBD Berhubungan dengan Hujan
Jum'at, 11 Februari 2005 | 21:30 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Menurut Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Paripurna Hanimuda Sedyono, berdasarkan penelitian terdapat korelasi positif antara curah hujan, intensitas dan hari hujan dengan perindukan nyamuk Aedes aegypti betina penyebab demam berdarah dengeu (DBD). Hubungan itu terutama terhadap tempat perindukan nyamuk pada daerah terbuka.
Perindukan nyamuk DBD cukup baik pada daerah terbuka yang tidak terkena sinar matahari. Padahal, "Dengan hujan kan matahari kurang," kata Paripurna saat dihubungi Tempo, Jumat (11/2).
Paripurna menjelaskan, tempat perindukan nyamuk ini cukup dengan botol minuman kemasan dan kaleng kosong, bahkan plastik yang terlentang dan memiliki cekungan yang cukup untuk menampung air. Menurutnya, media perindukan ini akan menambah populasi nyamuk.
Pada saat hujan, kata dia, nyamuk akan lebih senang di dalam rumah (indofilik). Alasannya, mereka mencari suhu yang lebih hangat. Padahal, pada saat yang sama manusia juga sebagian besar berada di dalam rumah. Sehingga, kemungkinan digigit nyamuk menjadi lebih besar.
Sesungguhnya darah manusia yang mereka sedot itu berfungsi untuk mematangkan telur nyamuk. "Karena, kalau dia tidak mendapatkan darah orang, telur dia (nyamuk) tidak matang. Yang menggigit kan betina. Yang jantan mencari yang manis-manis (buah-buahan)," kata Paripurna.
Namun Paripurna menekankan bahwa cuaca hanya berhubungan dengan perindukan nyamuk dan bukan tingkat keganasannya. "Saya belum pernah membaca penelitiannya (hubungan cuaca dengan keganasan nyamuk)," kata dia.
Sementara ini, kasus DBD banyak berhubungan dengan aktivitas nyamuk. Masa aktif nyamuk ini, kata dia, pada pagi dan sore hari. Nyamuk DBD memiliki ciri bahwa setelah kenyang menggigit, mereka akan beristirahat. "Bisa di gantungan baju atu tempat lain. Setelah itu lapar lagi dan menggigit kembali. Makanya dia aktif," kata dia.
Ewo Raswa





