RS Fatmawati Bebaskan Biaya Perawatan DBD
Senin, 14 Februari 2005 | 18:33 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Rumah Sakit (RS) Fatmawati Jakarta Selatan membebaskan seluruh biaya perawatan dan pengobatan pasien demam berdarah dengue (DBD). Juru bicara RS Fatmawati dr. Nusati menyatakan, semua pasien DBD dibebaskan dari pungutan biaya. Pasien demam berdarah gratis akan ditempatkan di ruang rawat inap kelas III. “Kami mengembalikan biaya yang dikeluarkan pasien kelas III yang terlanjur membayar biaya pemeriksaan darah dan menebus obat, " katanya.
Biaya pemeriksaan darah dan obat, kata dia, akan dikembalikan saat pasien pulang. "Tidak usah mengurus ini itu," katanya. Saat ini di RS Fatmawati tidak ada pasien DBD yang menjalani rawat jalan. "Begitu dinyatakan positif DBD, biasanya langsung rawat inap.”
Ketika dinyatakan positif DBD, pasien akan langsung diberi tahu tentang fasilitas gratis untuk rawat inap kelas III. "Jadi tergantung pasiennya. Kalau dia menolak dan merasa mampu membayar kelas di atasnya ya kami silahkan," kata Nusati.
Mengenai fasilitas, Nusati menjamin tidak ada perbedaan dengan pasien kelas III lainnya. Hal ini dibuktikan dari pengamatan Tempo. Beberapa pasien DBD kelas III, baik anak atau pun dewasa, menyatakan cukup puas dengan pelayanan yang diberikan oleh RS Fatmawati.
Titin, warga Pulo Raya, yang anaknya dirawat di kelas III menceritakan bahwa para perawat dan dokter cukup ramah. "Tempatnya bersih, makanannya juga enak," katanya sambil menunggui anaknya, Zuhud Azhar (7), yang telah lima hari dirawat.
Kurniandari (21) warga Kalibata, menyatakan hal serupa. "Pelayanan disini bagus," katanya singkat. Kurniandarai yang saat itu tergolek lemah, mengaku baru satu hari menjalani rawat inap di RS Fatmawati. "Sekarang sudah jauh lebih enak. Berarti obatnya gak asal.”
Bagi pasien yang menderita penyakit selain DBD tapi tidak mampu membayar tidak perlu takut untuk berobat ke RS Fatmawati. Nusati menyatakan, pihaknya juga juga memberikan pengobatan gratis. "Yang penting, pasien itu memiliki kartu keluarga miskin (Gakin) atau kartu sehat."
Hingga kini pihak rumah sakit belum menambah tempat tidur. Kepala lantai empat Gedung Teratai RS Fatmawati Entin Supriatin mengatakan, jika pasien DBD yang dirawat di RS itu membludak, mereka akan mengumpulkan semua pasien itu di lantai enam gedung Teratai. "Ya seperti tahun kemarin. Kalau nanti ruangan di lantai enam itu penuh juga, yang terpaksa kami tambah velbed di sepanjang lorong lantai enam."
suliyanti pakpahan





