PKS Jabar Resmi Usung Nurmahmudi Ismail

Selasa, 15 Februari 2005 | 16:19 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Dewan Pimpinan Wilayah Partai Keadilan Sejahtera Jawa Barat (DPW PKS Jabar) mengusung Nurmahmudi Ismail sebagai calon Walikota Depok dalam Pemilihan Kepala Daerah Langsung pada Juni mendatang. Nama bekas Presiden Partai Keadilan dan Menhutbun itu muncul ke permukaan sebagai hasil seleksi Tim Optimalisasi Musyarakah (TOM) yang dibentuk untuk menjaring calon-calon pejabat daerah dalam menghadapi pemilihan kepala daerah langsung.

Ketua DPW PKS Jabar, Yudi Widiana Adia, mengungkap hal itu, saat ditemui di kantornya, Selasa (15/2) siang. Dalam hal ini, Nurmahmudi terpilih dan menyisihkan 11 orang pesaingnya. Ia terpilih lantaran dinilai memiliki daya juang dan kemampuan yang paling tinggi dalam mengenal Depok dibanding calon-calon yang lain. Menurut Yudi, proses penyaringan Calon Walikota dari partainya ditentukan melalui musyawarah yang dilakukan unsur partai, mulai dari tingkat kecamatan hingga pengurus wilayah.

Pada Pemilu 2004 lalu, PKS merupakan partai pemenang di wilayah Kota Depok. Dengan fakta itu, Yudi menyebut, ?Posisi Walikota Depok sudah menjadi jatah bagi PKS.?

Jika nama Calon Walikota Depok sudah ditetapkan, tidak demikian halnya dengan nama-nama kandidat untuk Calon Wakil Walikota Depok. Hingga saat ini, lanjut Yudi, pihaknya memang belum menetapkan nama-nama tersebut. Hanya saja, untuk posisi ini, setidaknya sudah ada 15 nama yang berminat mendampingi Nurmahmudi.

Menyinggung Pemilihan Kepala Daerah secara Langsung di luar Kota Depok, Yudi menyatakan, pihaknya tidak menutup kemungkinan mengusung Calon Walikota di luar kader partainya. Hanya saja, seperti berlaku bagi kader PKS, calon-calon dari luar partai itu juga harus lolos seleksi TOM.

Hal yang tak kalah penting, calon-calon itu harus independen, memiliki integritas, dan kekuatan jaringan maupun dana untuk kampanye. Ikhwal dana kampanye yang harus diberikan calon, semua tergantung banyaknya desa di tempat pencalonannya. Dengan begitu, ?Jumlah dana kampanyenya bisa berbeda-beda,? kata Yudi.
dwi wiyana/sukma kartini






Komentar Anda

Kirim