Pecandu Jakarta Mengonsumsi Narkoba Umur 9 Tahun

Rabu, 16 Februari 2005 | 21:33 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Penelitian yang dilakukan Asian Harm Reduction Network (AHRN) terhadap remaja pengguna narkoba di Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Depok menemukan mereka mengkonsumsi narkoba pada umur 9 tahun. "Kebanyakan memulai dengan mengkonsumsi boti (obat tidur) seperti diazepam/valium. Sisanya memulai dengan konsumsi ganja," kata Kepala Proyek Penelitian AHRN, Ratna Pasaribu, dalam presentasi penelitiannya kepada Komisi Nasional Penanggulangan AIDS di Jakarta, Rabu (16/1) sore.

AHRN menemukan terjadi peningkatan penggunaan narkoba di usia yang semakin dini. Dari lebih 500 responden remaja pengguna narkoba, termasuk pelajar dan mahasiswa yang diwawancarai, separuhnya atau 50 persen memulai penggunaan narkoba mulai umur 9-15 tahun.

Menurut Ratna, hasil wawancara mendalam dengan para remaja pengguna menemukan bahwa peningkatan penggunaan narkoba di kalangan usia dini remaja adalah karena kemudahan untuk mendapatkan narkoba, rasa keingintahuan yang besar, dan pengaruh dari teman sebaya.

Ratna mencontohkan obat tidur yang seharusnya hanya bisa diperoleh dengan resep dokter, ternyata sangat mudah diperoleh di warung-warung kecil. "Para pembeli dan penjual itu sudah memiliki kode-kode tersendiri yang menyebabkan anak umur 10 tahun akan bisa mendapatkan valium dengan mudah," urainya.

Para pengguna memperoleh akses pada pengetahuan dan pengalaman karena adanya pengaruh dari peer group atau teman sebaya. "Prevalensi penggunaan juga ditambah dengan keingintahuan yang sangat besar," ujarnya.

Dari para pengguna narkoba diketahui bahwa 88 persen menggunakan ganja secara rutin. Sekitar 36 persen di antaranya adalah pengguna narkoba suntikan, "Yang notebene rentan tertular HIV/AIDS," kata Ratna.

Sisanya yang lain secara rutin menggunakan heroin seperti putauw dan jenis amfetamine seperti shabu-shabu. Dalam jangka 2-3 tahun sesudah mulai memakainya, mereka akan berpindah ke narkoba suntikan. "Atau setidaknya akan mencoba narkoba suntik," ujarnya

Yang sangat memperihatinkan, dari penelitian diketahui hanya sedikit atau di bawah 20 persen pengguna narkoba suntikan yang menyadari bahwa tertular HIV/AIDS adalah risiko yang mungkin mereka peroleh sebagai akibat penggunaan narkoba. "Padahal kemungkinan seorang pengguna narkoba suntik terkena HIV/AIDS adalah sekitar 40-70 persen," ujar Irene Lorette, Country Director AHRN Indonesia.

Karenanya, lanjut Irene, tidak heran apabila hampir seluruh pengguna narkoba suntikan atau 98 persen menggunakan jarum suntik secara bergantian sangat berpotensi menjadi saluran penularan HIV/AIDS.

Sampai saat ini, menurut penelitian, keluarga dan sekolah atau kampus sama sekali tidak berperan dalam mensosialisasikan bahaya HIV/AIDS. Sekolah atau kampus justru menjadi tempat yang paling aman untuk mendapatkan serta mengkonsumsi narkoba. "Terutama kampus-kampus yang menjadi surga bagi para pengguna narkoba, urai Irene. "Mana ada kampus yang melakukan razia narkoba ke mahasiswanya," dia menegaskan.

Menurut Irene, penelitian menunjukkan kebanyakan pengguna (hampir 80 persen) mendapatkan informasi bahaya HIV/AIDS justru dari media massa.

Sedangkan orangtua pengguna narkoba, menurut penelitian, sama sekali tidak mengetahui anaknya mengkonsumsi narkoba sampai beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun. "Sekitar 45 persen orangtua pengguna narkoba yang kita wawancara, selama bertahun-tahun, belum mengetahui anaknya menggunakan narkoba," urainya.

Ketua Komnas Penanggulangan AIDS (KPA), Nafsiah Mboi mengakui bahwa program harm reduction atau pengurangan mudarat untuk pengguna narkoba menjadi prioritas pihaknya. "Kita menghadapi epidemi ganda yakni perkembangan narkoba beriringan dengan perkembangan penularan HIV/AIDS," katanya.

Untuk itu, KPA sudah melakukan program percontohan harm reduction di Bali dan DKI Jakarta terutama dengan sosialisasi bahaya narkoba dan penggunaan jarum suntik yang steril terhadap pengguna narkoba suntik. "Kita sudah mendistribusikan jarum suntik ke puskemas, pusat rehabilitasi, beberapa LSM yang terjun langsung serta lembaga pemasyarakatan," urainya.
Amal Ihsan






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: