1500 Karung Pakaian Sumbangan Dijual, Uangnya Dikirim ke Aceh

Sabtu, 19 Februari 2005 | 16:20 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Sedikitnya 1500 karung atau setara dengan 5 ton pakaian dan ratusan dus mi instan sumbangan masyarakat, yang rencananya dikirim untuk korban bencana alam gempa bumi dan gelombang tsunami di Nanggroe Aceh darussalam, kini masih menumpuk di gudang posko Solidaritas Peduli Aceh Pemerintah Kota Bekasi.

"Tidak bisa dikirim, karena tak ada lembaga yang mau mengirim, juga ongkos kirimnya terlalu mahal," kata Ketua Posko Solidaritas Peduli Aceh Kota Bekasi, Paray Said, kepada wartawan, Sabtu (19/2). Agar tidak mubazir, akhirnya pihaknya mengambil inisiatif untuk menjualnya dengan harga sekitar Rp. 15 juta. Uang hasil penjualan tersebut digabung dengan uang sumbangan dari masyarakat yang telah mencapai Rp 265 juta.

Selanjutnya uang tersebut dikirim ke Aceh, sedangkan pakaiannya disalurkan untuk keluarga miskin di Bekasi dan korban bencana alam Garut, Jawa Barat. Mendengar kesulitan panitia dan khawatir pakaian membusuk dan mubazir, Wali Kota Bekasi Akhmad Zurfaih langsung merespon. "Pak Wali bersedia membeli pakain tersebut Rp. 15 juta," kata Paray.

Relawan Posko Solidaritas Peduli Aceh, Ali Anwar, mengatakan, sebelum disumbangkan kepada korban bencana alam di daerah lain seperti Garut, dan para petani, nelayan, dan tukang becak di Bekasi, seyogyanya pakaian layak pakai tersebut dicuci dan diseterika terlebih dahulu.

Sebab, ketika pakaian sudah bersih, para penerimanya akan lebih senang dan tidak menimbulakan penyakit. Karenanya dia mengimbau kepada para relawan di Bekasi, terutama para pengusaha laundry, berpartisipasi. "Kami mengundang sukarelawan yang bisa ikut mengurusi kebersihan pakaian," kata Ali.

Ide pengalihan sumbangan ke daerah itu muncul, kata Ali, setelah melihat perkembangan di Bekasi dan Aceh. Sebenarnya panitai sudah berhasil mengirim bantuan berupa pakaian, makanan, dan obat-obatan pada wal Januari lalu. Namun belakangan, berbagai instansi menyetop bantaun dalam bentuk barang, "Alasannya sudah menumpuk dan tak terkirim," ujarnya.

Kalau mengirim sendiri menggunakan truk, biayanya jauh lebih besar dari pakaian bantuan masyarakat tersebut. "Itu sebabnya dicari solusi, dan yang paling bijak adalah menjual di Bekasi, sedangkan uangnya tetap untuk Aceh," kata Ali. Sedangkan di Aceh, para korban sudah tidak memprioritaskan pakaian. "Di Aceh pakaian sudah cukup terpenuhi, masih ada kebutuhan lain yang menjadi prioritas," ujarnya.

Siswanto-Tempo






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: