Gedung DPR RI Rawan Pencurian
Kamis, 24 Februari 2005 | 17:25 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Gedung DPR RI di kawasan Senayan, tempat wakil rakyat berkantor, ternyata semakin tak aman. Setelah beberapa tahun lalu sempat guncang bom, kini gedung itu mulai rawan pencurian. Padahal untuk masuk ke gedung wakil rakyat itu pengamannya sangat ketat. Di pintu masuk beberapa petugas keamanan dalam (Pamdal) memeriksa setiap kendaraan yang mau masuk. Bahkan di setiap lantai di gedung itu juga dipasangi CCTV. Namun, toh pencurian tetap masih terjadi.
Wakil Ketua Komisi VII, Alvin Lie, kemarin, melaporkan telah kehilangan hardisk komputer di ruangannya yang terletak di lantai 20 gedung DPR. "Entah si maling cuma mau embat hardisk atau mau mencuri data-data dokumen saya," katanya saat dihubungi Tempo. Alvin juga melaporkan, minggu sebelumnya, hardisk milik rekannya sesama fraksi Partai Amanat Nasional, Najamudin, yang berkantor di lantai 20 juga hilang.
Selain dia dan Najamudin, berdasarkan laporan Pamdal, sebelumnya di gedung DPR itu juga telah terjadi empat pencurian hardisk komputer. Keempatnya berada di ruangan di lantai 13.
Menurut Alvin, kehilangan itu pertama kali diketahui oleh staffnya, Endang Risnandar. Endang, yang berkantor di ruangan Alvin , mengaku masuk kantor pukul 07.30 WIB. Pada awalnya dia curiga karena posisi CPU tidak rapih. "Biasanya sejajar pinggir meja, tapi tadi pagi miring. Tutup atasnya juga terbuka sedikit," katanya. Namun, dia berpikir, mungkin CPU tersebut dibuka oleh sekretaris Alvin, Anang Bambang Rahmidi, yang pada Rabu (23/2) pulang lebih sore dari dirinya.
Karena takut terjadi apa-apa, Endang memutuskan menunggu di luar ruangan sambil menunggu Anang datang. Sambil menunggu, Endang berbincang-bincang mengenai keanehan tersebut dengan Edi, cleaning service di lantai itu. "Eh, Edi bilang, Pak Najamudin di ruangan 2027 kehilangan hardisk dan sudah melapor ke Pamdal (pengamanan Dalam)," kutipnya. Kehilangan baru diketahui Selasa, tapi karena hari Jumat hingga Senin Najamudin tidak masuk, tidak bisa diperkirakan kapan pencurian itu terjadi.
Mendengar itu, Endang bersama cleaning service kembali masuk ke ruangan dan memeriksa komputer. Endang juga memanggil Buyung, staff Patrialis Akbar (juga anggota F-PAN) yang lebih mengerti komputer dibanding dirinya, untuk memastikan. "Ternyata benar, hardisknya hilang," katanya.
Endang, bersama Anang yang datang kemudian, langsung mengabari Alvin. Atas instruksi Alvin, mereka langsung melaporkan ke Pamdal yang kemudian dilanjutkan kepada Kepala Unit Tiga Pengamanan DPR Ajun Komisaris Polisi (AKP) Lambua M. "Kejadian kemudian dilaporkan ke Polda Metro Jaya dan saat ini sedang di proses di Polda," katanya.
Saat ini, meja dan komputer tersebut telah diisolasi. "Besok saya dipanggil ke Polda untuk memberi kesaksian," kata Endang.
Perlu diketahui, bahwa tiga pintu masuk ke gedung Nusantara I dijaga oleh dua hingga lima petugas Pamdal. Tidak sembarang orang bisa masuk ek gedung tersebut. Selai pegawai DPR atau anggota Dewan, para tamu wajib melapor sekretariat dengan meninggalkan identitas. Wartawan pun harus memiliki kartu pers DPR untuk dapat meliput di gedung itu.
suliyanti pakpahan





