Pembunuhan Febrina: Polisi Menolak Membuat Sketsa Pelaku

Kamis, 24 Februari 2005 | 17:42 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Meski sudah ada yang dicurigai sebagai penculik dan pembunuh Febrina Purnama Sari Harahap atau yang akrab dipanggil Febi, 11 tahun, kepolisian Bekasi tidak mau mengeluarkan sketsa wajahnya. "Sketsa itu kan malah bisa mengaburkan," kata Kepala Kepolisian Resort Metropolitan Bekasi, Kombes Edward Syah Pernong.

Menurut Edward, jika sketsa dibuat dan kemudian disebar justru orang yang dicurigai akan mengaburkan permasalahan. "Kalo sketsanya menyimpang, atau sama-sama berkumis, tapi sketsa yang digambar kumisnya melintir, malah tidak jelas," kata dia.

Padahal, sebelumnya kepolisian Bekasi sudah menyatakan, saksi kunci penculikan dan pembunuhan itu adalah orang yang bernama Yusuf, yang mengontrak rumah tempat ditemukannya jenazah Febi di Jalan Masjid Rahmat RT 04/02, Kelurahan Jati Rahayu. Sejak ditemukan Febi, Yusuf menghilang.

Kecurigaan polisi pada Yusuf, pada saat itu karena keterangan yang didapatkan dari saksi-saksi yang melihat Febi dibawa dari rumah dan keterangan pemilik kontrakan bernama Herman dan penjaga kontrakan bernama Jaya, tempat dimana Yusuf tinggal.

Untuk mengungkap kasus penculikan dan pembunuhan ini, kepolisian juga tidak berencana membentuk tim khusus. Namun, menurut Edward, Tim Khusus itu tidak perlu dibentuk karena sudah ada petugas yang menanganginya. "Tidak perlu dibuat, untuk menangani sudah ada tim, seprti unit kejahatan, reserse, unit TKP," kata dia.

Edward menolak berbicara banyak mengenai kasus ini, karena saat ini sedang dilakukan penyelidikan. "Berdoa aja, supaya kasus ini cepar terungkap," kata dia sambil beringsut pergi.

Sementara itu, pemilik kontrakan, Herman yang ditemui Tempo mengatakan, Yusuf mulai tinggal di kontrakan itu sejak 3 Februari lalu. "Dia nelpon saya, nyari kontrakan, sempat nawar harga, tapi akhirnya disepakati Rp 400 ribu. Saya minta KTP nya, tapi dia bilang nanti nyusul," kata dia.

Saat itu, Yusuf sempat menemui Herman di toko beras miliknya, di jalan Raya Hankam, Pondok Gede pada 2 Februari sekitar pukul 11.00 WIB. "Dia dating setelah 15 menit nelpon, kemudian membayar uang Rp 400 ribu, dia sempat nunggu untuk di sini untuk ngambil kunci kontrakan," kata Herman.

Sejak tinggal di kontrakan itu, Yusuf tidak pernah memberikan KTP. "Kalau saya minta, dia selalu ngulur-ngulur, sampai beberapa minggu, dia bilang KTP nya belum di foto kopi, sampai dia hilang pas ditemukan mayat itu, kami tidak pernah tahu identitasnya," tutur Herman.

Sementara itu, Jaya, penjaga kontrakan yang tinggal di samping kontrakan yang ditinggali Yusuf, saat ini tidak di tempat. Menurut Herman, sejak kasus pembunuhan terungkap, Jaya jarang dirumah. "Dia diajak polisi terus, tadi juga sempat kerja di took saya, tapi diajak lagi polisi. Mungkin untuk mencari Yusuf," kata Herman.

siswanto






Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: