Pembunuh Serial Sedang Berkeliaran?
Senin, 28 Februari 2005 | 05:25 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Kotak pandora telah terbuka. Polisi sedang diuji untuk menutupnya kembali. Sinyalemen polisi bahwa pembunuh Febrina Purnamasari Harahap, 11 tahun, diduga seorang psikopat, paedofil, dan pengidap sadisme memunculkan kemungkinan baru: Febrina bukan korban terakhir, mungkin juga bukan yang pertama.
Hingga hari kesebelas Febrina dibunuh, atau hari keenam sejak mayatnya ditemukan di kamar mandi rumah kontrakan Yusuf di Jalan Masjid Rahmat RT 04/02, Kelurahan Jati Rahayu, Pondok Gede, Bekasi, pembunuhnya belum tertangkap. Kepala Polres Bekasi AKBP Edward Syah Pernong kemarin mengatakan, polisi masih terus memburu pelaku. "Polisi respek dengan kasus Febrina," kata dia kemarin.
Ahli jiwa (psikiater) Prof Dr dr H Dadang Hawari mengungkapkan, jika pembunuhan Febrina benar dilakukan oleh seorang psikopat, paedofil, dan sekaligus penderita sadisme, korban baru mungkin menyusul. "Ada kecenderungan bagi penderita kelainan kejiwaan ini untuk mengulangi perbuatannya," katanya. Pelaku pun menjadi pembunuh berantai.
Kemungkinan bahwa pembunuh Febrina adalah pengidap kelainan jiwa muncul setelah polisi mempersempit motif pembunuhan itu--yang bisa saja kembali mengembang. Sejauh ini ada dua motif: Febrina dibunuh karena urusan utang-piutang atau karena dibunuh seorang psikopat, dengan melihat bagaimana korban dihabisi. Polisi telah menyingkirkan motif pertama (Koran Tempo, 27/2).
Ahli forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo yang memvisum Febrina, Abdul Mun'im Idries, sependapat dengan Dadang. Dia mengingatkan, pelaku bisa melakukan pembunuhan berikutnya dengan cara lebih mengerikan.
Seperti halnya manusia yang terus belajar, ujar Mun'im, para penderita kelainan itu juga terus belajar dari pengalaman. "Mungkin pertama hanya mencekik, kemudian mutilasi," kata Mun'im. "Jadi makin lama kian sadis, seperti kasus Robot Gedek," dia menambahkan.
Menurut Mun'im, psikopat adalah sejenis kelainan kepribadian. "Bukan gila," katanya. Polisi dan masyarakat akan kesulitan mengenali mereka karena kelainan ini tidak tampak secara fisik. "Penderitanya orang yang cerdas," ujarnya.
Seorang psikopat, Mun'im melanjutkan, tidak lagi punya perasaan. "Jadi tidak pernah menyesal dan merasa bersalah dengan apa yang telah dilakukannya," ujar dia. "Penderita selalu menikmati perbuatannya walaupun bagi sebagian orang perbuatan itu merupakan sebuah kesalahan," dia menekankan.
Menurut Mun'im, pelaku diduga mengidap penyimpangan seksual yang disebut paedofilia karena korban seorang anak-anak. "Sasarannya selalu anak-anak," kata Mun'im.
Mun'im mengungkapkan, seseorang bisa mengidap paedofilia karena mengalami kegagalan hubungan seksual dengan pasangan yang sebaya. Untuk itu, sebagai kompensasinya, penderita akan melakukan hubungan seksual dengan anak-anak. "Untuk menunjukkan keperkasaannya sebagai seorang pria," ujar Mun'im.
Namun, kata Mun'im, untuk memvonis seseorang sebagai pengidap paedofilia harus ada bukti bahwa perbuatan itu dilakukan berulang kali. "(Sementara) Korban tidak harus mati," ujar Mun'im.
Penderita kelainan ini, kata Mun'im, juga punya hobi mengoleksi segala hal yang berhubungan dengan pornografi anak, seperti foto atau gambar.
Menurut Dadang, paedofil terus belajar. "Mulanya pemerkosaan, tapi kemudian bisa berkembang menjadi sodomi," ujar dia.
Apabila pemerkosaan itu disertai penyiksaan, kata Dadang, penderita juga mengidap sadisme. "Penderita sadisme baru mulai terangsang apabila sudah melakukan penyiksaan terhadap korban," katanya.
Dadang mengungkapkan, masyarakat harus selalu waspada terhadap pelaku kejahatan yang mengalami kelainan kejiwaan. Dia meminta orang tua sangat hati-hati menjaga anak-anaknya. Misalnya, mereka mengusahakan untuk mengantar-jemput anak-anaknya dari sekolah, melarang anak-anak ke luar rumah pada malam hari, dan selalu berpesan agar anak-anak berhati-hati kalau ditawari apa pun oleh orang tak dikenal.
"Pelaku kategori ini berbahaya. Masih bisa disembuhkan, meski agak sulit dilakukan. Selain itu, pelaku harus dipenjarakan di rumah tahanan karena berpotensi kembali mengulangi kejahatannya," kata Dadang.
Indriani Dyah S/Siswanto-Tempo





