Orang Tua Siswa Protes Pungutan Les Oleh Guru

Selasa, 01 Maret 2005 | 16:26 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Orang tua murid SMA PGRI 1 Kota Bekasi bingung karena diwajibkan ikut les. Biaya les yang diadakan oleh guru sekolah dengan biaya yang ditetapkan sepihak, dibebankan ke orang tua atau wali siswa. Orang tua siswa mengaku sedih karena merasa dipaksa, bila anaknya tidak diikutsertakan les, nilainya akan jeblok.

Orang tua siswa mengeluhkan, besarnya nilai les yang dibebankan oleh guru. Sebab, bagi mereka untuk situasi ekonomi seperti sekarang ini, beban bayaran sekolah amat mempengaruhi kehidupan keluarga. "Biaya les setiap siswa untuk semester dua ini, awalnya Rp 500 ribu, tapi diganti jadi Rp 300 ribu," tutur Reli Erlinawati, orang tua siswa kepada Tempo.

Reli mengungkapkan, pihak guru tidak boleh menyamaratakan ekonomi seluruh siswa, sebab, sebagian orang tua siswa memiliki ekonomi lemah. Yang membuat orang tua keberatan adalah guru matematika benama Hamzah secara sepihak menetapkan pembayaran, selain itu tidak mau mendengar saran orang tua murid.

Diceritakan, anaknya yang duduk di kelas 2 (1), pada November 2004 lalu, guru matematika, mengumumkan untuk kelas 2 (1-3) untuk semester dua harus membayar Rp 500 ribu sebagai biaya les pelajaran matematika. Total biaya itu, untuk bayaran les semester satu dan dua.

"Anak saya harus ikut les di semester dua dengan membayar Rp 500 ribu. Padahal, di semester satu dia tidak ikut les. Pembayaran itu untuk dua les dua semester. Semester satu bayaran les Rp 250 ribu," tutur pengajar sekolah dasar (SD) Negeri itu saat ditemui di rumahnya.

Yang membuat orang tua siswa heran, pihak guru matematika mengatakan kepada para muid untuk siswa yang yang sudah ikut les matematika dijamin mendapatkan angka tujuh. Namun, bagi siswa yang tidak mengikuti les, guru akan memberikan nilai sesuai dengan hasil yang diperoleh. "Apa itu mendidik siswa?" kata Reli.

Sistem penilaian guru matematika adalah dari nol sampai sepuluh. Maksudnya, bila anak dapat mengerjakan soal, nilainya langsung 10, jika tidak meski anak sudah berupaya menghitung, anak tetap diberi nilai nol. "Yang nilainya 10 itu yang sudah dibahas di tempat les," kata Reli.

Sebelum masuk semester dua, karena merasa janggal, orang tua siswa mendatangi kepala sekolah SMA PGRI 1 Bekasi, Undang Sunarya, untuk menanyakan diwajibkannya les, pemungutan biaya les yang besar dan dinilai memaksakan itu. "Kepala sekolah bilang les itu bukan kebijakan sekolah," kata Reli.

Alasannya, pada waktu itu, kata Reli, pihak sekolah sudah memberikan kebijakan memberi tambahan jam belajar selama dua jam sebagai perbaikan nilai sehingga tidak ada kebijakan les yang dilakukan guru. Kemudian, pada pertengahan Januari 2005, tiba-tiba biaya les diturunkan oleh guru matematika menjadi Rp 300 ribu.

"Setelah datang ke kepala sekolah, beberapa hari kemudian, Besarnya uang les diturunkan Rp 300 ribu, sebelumnya kan Rp 500 ribu. Tapi dengan catatan seminggu kemudian, (Sabtu15 Januari) uang harus masuk (pada Sabtu), kalau tidak, orang tua harus membayar DP atau uang muka," tutur dia.

Hal itu membuat penasaran para orang tua siswa. Kemudian, Reli kembali menemui kepala SMA PGRI 1 untuk meminta konfirmasi. Pihak kepala sekolah, kata Reli, tidak memberikan solusi. "Jika soal les itu diungkap, nanti anak saya akan kena intimidasi dari guru matematika, dan akan berpengaruh ke nilai," kata Reli menirukan Undang.

Pernyataan kepala sekolah itu justru membuat putus asa karena tidak memberikan penjelasan yang bijaksana. "Waktu itu saya terbayang anak saya akan shock, bila terintimidasi di sekolah, karena mendengar pernyataan seperti itu, saya ikutkan anak saya les," ujar Reli.

Persoalannya tidak sesederhana itu, karena keputusan sepihak guru memberikan les dengan biaya besar dan disertai ancaman, membuat orang tua menjadi resah. Rencananya, masalah les dengan paksaan ini akan dibawa ke DPRD. "Kami akan meminta bantuan dari dewan karena ini perlu dipertanyakan," kata dia.

Wali murid lainnya, Firma mengaku juga keberatan dengan kebijakan guru yang mengharuskan siswa ikut les dengan biaya yang sudah ditetapkan sepihak. Sebab, kebijakan dinilai memaksa. "Dengan terang-terangan, gurunya mengatakan les ini akan mempengaruhi nilai siswa yang ikut dan yang tidak," kata Firma.

Firma, kakak salah seorang siswa kelas dua SMA PGRI 1 itu mengatakan, ancaman guru tidak ikut les nilai anakya kemungkinan besar akan rendah itu sangat tidak bisa diterima. "Kita keberatan, guru memaksa untuk ikut les matematika, padahal,kita tidak mau ikut, tapi, kalau tidak ikut akan mempengaruhi nilai," ujar dia.

Dikatakan juga, meski diharuskan, tetap keluarga Firma tidak mengijinkan mengikuti les. Selain biayanya mahal, juga sudah mengikuti bimbingan belajar di tempat lain. "Enggak Orang tua saya ikut ngelapor ke sekolah. Menolak untuk ikut les yang diharuskan dengan biaya mahal itu, tapi enggak tahu dari pihak sekolah apa ditindak lanjuti," kata dia.

Pihaknya kecewa dengan adanya kebijakan guru yang memaksa dan mengancam nilai rapor itu. "Kalau nanti nilai adik saya kurang karena hanya tidak ikut les, kami akan datangi sekolah lagi, atau mungkin akan ke Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan Nasional" ujarnya.

Menanggapi hal itu, Kepala Sekolah SMA PGRI Undang Sunarya mengaku tidak tahu menahu mengenai adanya pelaksanaan les yang diadakan oleh guru pelajaran matematika. "Saya anggap ini informasi, saya belum tahu nanti saya akan konfirmasi ke guru bersangkutan," kata Undang..

Undang mengatakan, peraturan pihak sekolah, guru tidak diperkenankan memberikan les dengan memungut biaya kepada siswa. "Kita tidak kebijakan seperti itu, itu tidak boleh, karena semua kegiatan sudah ditanggung sekolah," kata Undang mengatakan, di SMA PGRI 1 tidak ada les.

Undang terkesan menutup-nutupi kasus yang menjadi pemikiran para orang tua siswa. Dia mengaku belum pernah mendapat keluhan dari orang tua siswa mengenai pemungutan biaya les. "Belum, saya belum pernah mendapat keluhan dari orang tua siswa, belum pernah ada yang ke sini," kata dia.

Pernyataan Undang ini rupanya bertolak belakang dengan pengakuan Reli, orang tua sudah menyampaikan keluhan soal adanya les yang dipaksakan oleh guru matematika itu ke Undang. "Saya sudah menghadap kepala sekolah, meski memang sulit untuk menemuinya," kata Reli.

Bahkan, kala bertemu dengan Reli, pihak sekolah berjanji akan menindak lanjuti masalah itu. Undang, kata Reli, justru menakut-nakuti dengan mengatakan, bila masalah les itu diungkapkan, akan merugikan siswa. "Saya takut anak ibu diintimidasi dan nilainya jadi 3-4 di raport. Saya sebagai Kepsek, tidak punya kewenangan," kata Reli meniru Undang.

Siswanto-Tempo

TOPIK






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: