Sopir Pilih Mogok Ketimbang Menombok
Senin, 07 Maret 2005 | 19:28 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Sejumlah pengemudi angkutan umum di kota Depok memilih mogok dua sampai tiga hari daripada harus menombok. Para pengemudi menolak keputusan Pemerintah Kota Depok yang telah menaikkan tarif angkutan umum sebesar 15 persen.
Dian, sopir angkutan kota nomor D03 jurusan Depok-Parung, mengatakan, kenaikan 15 persen belum memadai. "Masa bensin naik 30 persen tapi tarif cuma 15 persen. Masih jauh sekali," katanya saat ditemui di terminal Depok, Senin (7/3). Dian dan teman-temannya sesama pengemudi telah menaikkan tarif secara sepihak sejak 3 Maret lalu sebesar Rp 500--sekitar 25 persen dari tarif sebelumnya yang hanya Rp 2.000.
Dengan kenaikan 15 persen, menurut Dian, tarif angkutan hanya bertambah Rp 300. "Masih tetap menombok kalau segitu. Sopir cuma dapat capek," kata Dian. Sebelum kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), Dian mengaku biasa memperoleh keuntungan Rp 20.000-40.000 ribu per hari. Keuntungan itu sudah dikurangi setoran sebesar Rp 80.000 , bensin sekitar Rp 40.000 , berbagai pungutan sekitar Rp 7.500, dan uang makan. Kini, pengeluaran untuk bensin bertambah Rp 12.000. "Kalau menombok terus, lebih baik mogok," katanya.
Subur, 36 tahun, pengemudi angkutan jurusan Lebak Bulus-Parung juga berniat akan menggunakan tarif yang telah ditetapkan oleh sesama pengemudi. Sebelum kenaikan BBM, tarif terjauh Rp 2.000. Kini, pengemudi mematok tarif Rp 2.800. "Tapi kami akan menerima jika penumpang membayar Rp 2.500," katanya.
Nina, 25 tahun, karyawan swasta yang tinggal di Sawangan mengatakan tidak keberatan dengan kenaikan tarif sebesar 15 persen. "Nggak apa-apa, daripada mereka mogok terus. Kalau saya naik ojek jauh lebih mahal." Dulu, kata Nina, jarak Sawangan-Depok tarifnya Rp 1.500. Sekarang, naik jadi Rp 1.700.
Tapi, Nina mengaku kesal dengan ulah beberapa pengemudi yang memaksanya membayar Rp 2.000. "Gaji karyawan kan tidak naik," kata Nina. Ia berharap pemerintah segera mengeluarkan tarif resmi. "Biar tidak ada yang nakal menaikkan tarif seenaknya," katanya.
Suliyanti Pakpahan






Komentar Anda :