Permukaan Tanah Jakarta Turun 4-10 Cm Per Tahun
Rabu, 09 Maret 2005 | 04:55 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Permukaan tanah di beberapa daerah di Jakarta mengalami penurunan setiap tahunnya. Ahli Tehnik Tanah, Chaidir Anwar Makarim, menyatakan penurunan tersebut karena tanah Jakarta yang sebagian besar berupa lapisan lunak yang terbentuk atas lempung dan lanau.
"Bukan hanya karena pengambilan air tanah apalagi oleh bobot gedung," katanya kepada Tempo di kantornya, Jakarta. Dia mencontohkan jalan di Bandara Soekarno-Hatta yang mengalami penurunan 1,2 hingga 1,5 meter sejak dibuat tahun 1983. "Dilewati mobil saja sudah turun sedalam itu, bagaimana jika dibangun gedung," katanya.
Tanah Lunak ini tersebut tersebar di Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan sebagian Jakarta Pusat. Daerah Jakarta Utara antara lain meliputi daerah Sunter, Ancol, Kelapa Gading, Pluit, Cilincing, dan Kapuk.
Tanah lunak di Jakarta Barat meliputi Kecamatan Taman Sari, Tambora, Grogol, Jalan Daan Mogot, dan lain-lain. Sementara kawasan Jakarta Pusat diantaranya terdapat di Jalan Gatot Subroto, Sawah Besar, sebagian Bundaran HI, Sarinah, serta Cideng Barat dan Timur. "Tanah di Jakarta Selatan dan Timur relatif bagus," katanya .
Menurut Chaidir, tanah lunak terbentuk dari bekas rawa, bekas aliran sungai atau berbatasan dengan bekas aliran sungai, serta timbunan sampah organik yang lama kelamaan membentuk lapisan tanah.
Jika dibiarkan, tanah di atas lapisan lunak tersebut akan mengalami penurunan jangka panjang dengan kecepatan bervariasi. "Sekitar empat hingga sepuluh sentimeter per tahun," katanya menjelaskan.
Efek bagi membangun di atas lapisan lunak adalah bangiunan terancam turun yang lama kelamaan akan menimbulkan keretakan pada tembok dan akhirnya merobohkan bangunan.
Untuk mengantisipasi, Chaidir menjelaskan, tanah lunak tersebut harus dipadatkan. "Jika lapisan lunaknya kurang dari tiga meter, sebaiknya tanahnya diganti," katnya. Untuk gedung tinggi, mutlak harus menggunakan tiang fondasi yang mencapai lapisan tanah keras.
Pemukiman di daerah Pluit,yang berdiri di atas tanah lunak, sebagian besar dibangun dengan pondasi cerucuk. Tiang pancangnya cukup panjang tapi tidak mencapai lapisan tanah keras. Akibatnya, menurut Chaidir, bangunan akan tetap tidak stabil.
Bagi bangunan yang sudah terlanjur berdiri di atas tanah lunak, beban pondasi harus dialihkan ke lapisan tanah keras dengan tehnik under pinning. "Kendala antisipasi dan solusi cuma satu, biaya," kata Chaidir.
Suliyanti Pakpahan-Tempo





