Guru Mogok Mengajar, Siswa Gelar Unjuk Rasa
Rabu, 16 Maret 2005 | 17:28 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Sebagian besar guru SMP Negeri 22 Jembatan Baru, Jakarta Barat, mogok mengajar, Rabu (16/3). Mereka menuntut transparansi pengelolaan dana dan kenaikan biaya di sekolah itu. Aksi ini memicu para siswa yang tidak memperoleh pelajaran menggelar demo di halaman sekolah.
Sejak pagi, sebanyak 51 orang guru berhenti mengajar. Siswa pun keluar dari ruang kelas untuk berdemo. "Ini bentuk protes kami terhadap kebijakan kepala sekolah yang kami nilai otoriter," ungkap salah seorang guru yang minta namanya tidak disebutkan.
Sejumlah guru bersedia memberi keterangan kepada wartawan dengan catatan namanya dirahasiakan. Menurut guru, pengelolaan keuangan SMP Negeri 22 menimbulkan keresahan, terutama menyangkut upah guru tidak tetap.
Diungkapkannya, gaji guru honor dipatok Rp 2.000 per jam. Apabila honor guru ini dihitung berdasarkan jumlah jam mengejar, sekitar 20 jam dalam sebulan, seorang guru tidak tetap hanya membawa pulang uang Rp 284 ribu. "Gaji ini jauh dari batas minimal upah minimum," timpal guru yang lain.
Sedang dari pihak siswa, muncul keluhan kewajiban menabung Rp 36.500 setiap bulan. Padahal, kata guru, aturan ini memberatkan siswa yang berasal dari kelaurga kurang mampu.
Perkara lain yang disoal para guru, yaitu penggunaan dana bantuan Pemerintah DKI sebesar Rp 20 juta. Tidak ada pertanggungan jawab pemakaian dana bantuan.
Dampak konflik ini, prestasi para siswa menurun. Jika sebelumnya siswa di sekolah ini kerap menggaet peringkat I untuk wilayah Kecamatan Tambora dan Taman Sari, peringkat itu kini sulit digapai.
Keluhan para guru ditanggapi dingin oleh Windarti, Kepala Sekolah SMP Negeri 22. "Saya tidak merasa ada yang salah. Kalau yang lain merasa ada yang perlu dipermasalahkan, silakan saja," katanya.
Sementara itu, dari kantor Suku Dinas Pendidikan Dasar ada imbauan para guru menghentikan aksinya. Tuntutan agar kepala sekolah dinonaktifkan atau dipindahkan, masih dalam proses. Aksi yang berkepanjangan akan berdampak pada masa depan siswi yang pada Mei nanti menempuh ujian nasional.
Rengga Damayanti-Tempo





