Bekasi Kota Kusta

Senin, 21 Maret 2005 | 10:11 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Kota Bekasi sudah masuk endemis penderita penyakit kusta. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi menemukan 158 kasus penyakit yang disebabkan kuman Microbacterium Lepra. "Kota Bekasi sudah endemis kusta,"kata Kepala Seksi Bidang Pemberantasan Penyakit Menular Dinkes Kota Bekasi, Yasni Rufaidah.

Jumlah kasus yang berhasil ditemukan petugas kesehatan
itu, menurut Yasni tergolong besar untuk daerah seperti
Kota Bekasi sehingga termasuk daerah endemis
(penyebaran). "Jumlah itu, sebenarnya belum semuanya,
masih banyak yang belum berhasil ditemukan, karena
keterbatasan kami,"katanya.

Salah satu daerah di Kota Bekasi yang paling tersebar penyakit penyakit kusta leprophobia, menurut Yasni, berada di Kelurahan Margahayu. "Karena lingkungannya termasuk kumuh,"ujarnya.

Sejak 2004 hingga 2005, menurut Yasni, jumlah penderita kusta belum berhasil dieliminasi secara maksimal. Hambatannya yang dihadapi oleh petugas kesehatan, antara lain masuk kurang pemahanan masyarakat terhadap kebersihan lingkungan dan terutama masalah dana dari pemerintah terbatas untuk program eliminasi penyakit kusta. "Seharusnya, di lingkup pemerintahan daerah
memprioritaskan program-program pemberantasan penyakit
menular, seperti lepra ini. Selain itu pendidikan, kesehatan dan ekonomi, itu harus seimbang. Tapi, kenyataanya kesehatan bukan orientedpemerintah kita,"kata Yasni.

Penyakit kusta, muncul karena kurangnya kesadaran terhadap kebersihan lingkungan. Penyakit kusta atau lepra ini, proses penularannya cukup lama, tidak seperti tuberculosis (TBC) yang lebih cepat. "Cara penularannya melalui kontak yang lebih lama,"kata Yasni.

Meski begitu, penyakit yang bila terlambat dapat
menimbulkan cacat fisik ini bisa diobati dengan baik.
Setelah diobati, menurut Yasni, di masa mendatang tidak
akan menularkan penyakit lagi. "Kalau sudah cacat,
orang tidak akan sempurna atau produktifitasnya akan
lemah karena, tetapi, tugas pemerintah memberikan
keterampilan kreatif,"katanya.

Penyakit kusta adalah salah satu penyakit menular yang
menahun dan yang disebabkan oleh kuman kusta yang
menyerang saraf tepi, kulit dan jaringan tubuh
lainnya. Kuman-kuman kusta berbentuk batang, biasanya
berkelompok dan ada yang tersebar satu-satu dengan
ukuran panjang 1-8 mic, lebar 0,2-0,5 mic yang
bersifat tahan asam.

Pengobatan yang dapat diberikan kepada penderita, waktunya antara enam sampai 12 bulan. Sebab, sesuai dengan jenis penyakit kusta (ada yang kusta kering dan kusta basah). "Selama pengobatan, penderita harus secara rutin sehingga secara teratur dan tidak boleh berhenti-berhenti, sampai sembuh,"ujar Yasni.

Kondisi seperti di Kota Bekasi ini, menurut Yasni
merupakan sebuah dilema. Kesadaran masyarakat akan kesehatan masih lemah, sementara pemerintah sendiri kurang memprioritaskan dana untuk pemberantasan penyakit menular. "Tugas kami untuk menemukan penderita baru, caranya terus memantau anak-anak sekolah,"katanya.

Peranan petugas kesehatan untuk memonitor penyebaran kusta, menurut Yasni, masih kurang. Selama ini, petugas kesehatan sifatnya hanya menunggu warga memeriksakan diri sehingga baru diketahui petugas. "Karena keterbatasan dana untuk penelusuran di lapangan, kami ini (petugas) menunggu saja,"katanya.

Padahal, seharusnya petugas terus secara kontinyu
memantau ke masyarakat langsung. Selain itu diiringi
dengan memberikan penjelasan-penjelasan kesadaran
lingkungan. "Tetapi, yang kami lakukan selama ini,
hanya titip pesan kepada penderitanya supaya
keluarganya memeriksakan diri, atau lingkungan
sekitarnya memeriksa,"kata Yasni.

Menanggapi banyaknya penderita kusta yang jadi
peminta-minta di perempatan jalan, Yasni menyatakan,
umumnya warga itu sudah sembuh dari pengobatan petugas
kesehatan. "Mereka sebenarnya sudah sembuh, Cuma
karena alasan ekonomi, mereka kemudian memberikan obat
merah ke luka bekas kusta untuk mengiba, meminta-minta," ujar Yasni.

Umumnya, penderita kusta dari keluarga miskin.
Seharusnya, setelah selesai pengobatan, berlanjut menjadi tanggung jawab Dinas Sosial untuk memberikan pendidikan dan keterampilan. "Mereka,kan, cacat, berarti produktifitas menurun, harusnya diberi keterampilan," kata Yasni.

Penyakit lepra pada awalnya memang sulit dikenali, sebab, ciri-cirinya seperti panu di kulit, tetapi tidak berasa ketika disentuh. Dinkes mengharapkan, warga yang mengalami kelainan, segera memeriksakan diri ke Pusat kesehatan masyarakat. Puskesmas akan memberikan pelayanan gratis.

Siswanto






Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: