Ketika Motor Besar Masuk Jalan Tol
Rabu, 17 Agustus 2005 | 15:45 WIB
TEMPO Interaktif, Bekasi:Pengguna dan penyelenggara jalan bebas hambatan, PT Jasa Marga (persero) Jakarta-Cikampek, mengeluh aksi konvoi yang diakukan kelompok sepeda motor besar yang melenggang di jalan tol. Selain melanggar peraturan dan membahayakan laju kendaraan roda empat, berpengaruh juga terhadap kelancaran arus lalu lintas.
Aksi pawai sepeda motor besar atau dikenal dengan
motor gede (moge) ini diketahui dari salah satu
pengguna jalan tol bernama Sofyan yang menceritakan
pengalamannya kepada Tempo, Rabu (17/8). Ia menilai,
kelompok pengguna sepeda roda dua sudah keterlaluan
karena membandel dengan nekat melintas di jalur jalan
bebas hambatan.
Sofyan sudah beberapa kali dalam setahun ini melihat
konvoi sepeda motor di jalan tol. Kejadian terakhir,
terakhir di tol Jakarta-Cikampek menuju arah Jakarta,
pada Selasa (16/8) sekitar pukul 19.00 WIB. "Ada
sekitar 30-an motor besar seperti Harley Davidson
masuk tol, mereka juga dikawal aparat keamanan juga,"
ujar Sofyan.
Para pengendara sepeda motor besar itu bergaya di jalur jalan tol. Padahal, saat itu, volume arus kendaraan roda empat,seperti truk dan bus sedang ramai. Kendaraan roda
empat, termasuk Sofyan, terpaksa mengurangi kecepatan
dan berhati-hati di belakang konvoi para pengendara
motor besar itu.
Ia menilai Jasa Marga lemah menjamin kelancaran lalu
lintas, Sebab, kendaraan roda dua yang sudah
jelas-jelas dilarang masuk jalan tol ternyata
dibiarkan. Ia khawatir, bila jalan tol sudah
diperbolehkan dilintasi kendaraan roda dua, akan
menyebabkan peningkatan jumlah kecelakaan lalu lintas.
"Kami terpaksa mengalah,"katanya.
Kepala PT Jasa Marga Cabang Tol Jakarta-Cikampek, Tito Karim juga mengeluh. Ia mencatat, sebanyak 36 sepeda motor besar dengan pengawalan aparat berkonvoi bebas di jalur jalan bebas hambatan. "Kami mencatat sembilan nomor polisi dari 36 sepeda motor. Mereka nyerobot masuk tol tanpa izin petugas dulu,"ujar Tito.
Rombongan pengendara motor tadi memasuki jalur tol
melalui gerbang tol Cikopo (Cikampek). Pada saat
hendak masuk, petugas patroli tol sudah mencoba
memberikan peringatan larangan masuk. "Petugas tidak
dihiraukannya. Bahkan, kami sudah mengejar tapi tidak
dipedulikan, mungkin juga karena ada pengawalan tadi,"
katanya.
Bahkan, petugas patroli dari Polisi Jalan Raya yang
diterjunkan untuk mengejar rombongan tadi juga tidak
dapat menghentikan. Menurut Tito, kemungkinan besar
karena rombongan itu dikawal ketat oleh aparat
keamanan. "Sepertinya mereka dikawal polisi atau dari
TNI, mereka cepat banget jalannya, dikejar juga
sulit,"kata Tito.
Dijelaskan, kecuali pengawalan presiden atau izin dari
presiden sendiri, jalan tol dilarang dilintasi oleh
kendaraan roda dua. Hal ini sudah diatur dalam
Undang-Undang nomor 38 tahun 2004 dan Peraturan
Pemerintah nomor 15 tahun 2005. "Mereka sudah
melanggar undang-undang karena memaksakan minta
perlakuan khusus,"ujar Tito.
Rombongan pengendara sepeda motor tadi keluar jalur
jalan tol melalui gerbang tol Jatibening. Jarak tempuh
dari gerbang Cikopo sampai Jatibening panjangnya 72
kilometer. "Memang kalau lewat jalan luar memakan
waktu 2 jam, kalau di dalam tol cuma 30 menit,"kata
Tito.
Ia menyayangkan para pemilik kendaraan besar tadi.
Sebab, umumnya mereka memiliki berpendidikan tinggi.
Termasuk juga petugas keamanan yang mengawal mereka.
Mereka dinilai sewenang-wenang, padahal sudah
jelas-jelas ada rambu yang melarang kendaraan roda dua
masuk jalan tol. "Padahal mereka itu petugas yang tahu
hukum,"ujar Tito.
Untuk mencegah terulangnya kejadian tadi, PT Jasa
Marga mendesak Direktor Lalu Lintas (Ditlantas) serius
dan tegas untuk memberikan sanksi dan tindakan
terhadap bentuk pelanggaran itu, termasuk petugas
pengawalnya. "Itu kewenangan Ditlantas untuk
menyadarkan,"kata Tito.
Menurut Tito, jika kelompok moge yang melanggar
tidak ditindak, dikhawatirkan, akan ada reaksi dari
pemilik kendaraan roda dua lainnya. Sebab, mereka akan
menilai, ugal-ugalan pemilik kendaraan roda dua dengan
lewat jalur tol, akan dinilai pemerintah melindungi
para pelanggar. "Takutnya, semua mau ikut,"ujarnya.
Siswanto




Komentar Anda :