Minim Ruang Kelas, 545 Siswa belajar Berdesak-Desakan
Kamis, 08 September 2005 | 18:21 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Karena terbatasnya mebeler, tidak ada ruang belajar dan minim tenaga pengajar, sebanyak 545 siswa SD Negeri Cikareo, Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang terpaksa belajar berdesak-desakan. Hal itu karena jumlah siswa dalam satu kelas mencapai 75 hingga 80 siswa.
Agar bisa tetap belajar, satu bangku diduduki 4 orang. "Daripada mereka tidak belajar, lebih baik begitu ditumpuk aja," ujar Asih Selamat, Kepala SD Negeri Cikareo, kepada Tempo, Kamis (8/9). Kondisi ini sudah berjalan 2 tahun.
Menurut Asih, cara ini terpaksa dilakukan karena keluhan dan permintaan sekolah itu tak kunjung dipenuhi. "Sejak 2002 lalu kita ajukan, sampai sekarang belum ada tanggapan juga," katanya. Asih mengakui cara belajar seperti itu memang sangat tidak efektif, banyak siswa yang bermain dan tidak serius dalam menerima pelajaran dari guru. "Bahkan banyak siswa yang tertidur," katanya.
SD yang dibangun sejak 1981 ini sebenarnya mempunyai delapan ruang kelas dan dua ruangan guru. Namun, satu unit bangunan dalam keadaan rusak berat, iternit dan kaca jendela sudah tidak ada lagi, lantaipun masih dari tanah. Sementara meja dan kursi sudah banyak yang patah dan rusak. Kendati demikian, tiga dari empat ruangan itu masih digunakan oleh siswa kelas 1,2 dan 3 yang belajar pagi dan sore. Sementara, siswa kelas 4,5 dan 6 menghuni satu unit bagunan yang baru direnovasi tahun 2002 lalu. Namun, tidak disertai dengan pengadaan mebeler yang baru.
Asih mengakui jika jumlah siswa disekolah itu sangat banyak dan selalu meningkat setiap tahunnya. Para siswa itu, kata dia, berasal dari puluhan desa di Kecamatan Cisoka, bahkan ada yang datang dari Kecamatan lain seperti, Tigaraksa dan Jayanti. "Daya tampungnya memang sudah melampaui batas, ditambah lagi minimnya ruang kelas serta meja kursi," katanya.
Dalam pengamatan Tempo, para siswa belajar seperti menumpuk dan tidak teratur. Mereka harus duduk berdesak-desakan dalam dua atau tiga kursi yang disusun berdempetan. Satu baris kursi diduduki oleh empat siswa dan diatasnya satu meja berukuran kecil. Cara belajar ini, harus dialami oleh siswa kelas 4, 5, 6 yang tiap kelasnya berjumlah 75 hingga 80 siswa. Sebagian siswa senang dengan cara belajar seperti itu. "Bisa bermain dan bercanda sama teman," kata Sohirin, 12 tahun, siswa kelas 6. Baginya, dengan cara belajar seperti itu, banyak kesempatan untu bercanda dan bermain bahkan tidur.
Namun sebagian siswa lainnya mengeluh dan merasa capek belajar seperti itu. "Panas, sumpek dan cepat pusing," kata Novi, siswa lainnya. Menurut dia, saling berdesak-desakan dan duduk berhimpitan seperti itu membuat cepat pusing dan sulit menerima pelajaran dengan baik. "Saya maunya, satu meja dan satu kursi kan enak belajarnya," katanya polos.
Selain itu, menurut Asih Selamat, sekolahnya juga kekurangan tenaga pengajar. Saat ini, 540 siswa hanya diajari oleh dua guru berstatus Pegawai Negeri Sipil dan lima guru honor. "Jelas sangat tidak seimbang dengan jumlah siswa," katanya.
joniansyah





