Polisi Membubarkan Doa Massal di Depan Istana

Jum'at, 18 November 2005 | 11:50 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Mulai Jumat (18/11) pukul 10.00 Jaringan Rakyat Miskin Kota mengadakan doa massal untuk korban bantuan langsung tunai (BLT). Doa ini sekaligus sebagai aksi piket selama tujuh hari menuntut BBM murah untuk rakyat miskin.

20 peserta aksi duduk berbaris di jalur hijau di depan Istana Negara sambil membaca surat Yasin dan tahlil yang dipanjatkan untuk korban BLT yang meninggal di berbagai tempat.

Mereka mengenakan plastik berwarna hitam di badannya berisi coretan aneka tuntutan, seperti penyediaan minyak murah, pendidikan gratis dan sebagainya. Selain itu mereka memakai besek di kepala, peserta aksi memegang papan nisan yang bertulisan nama-nama korban BLT yang tewas, antara lain di Jambi dan Banyuwangi.

Sri Wahyuni (40), ibu rumah tangga asal Kampung Rawa, Jakarta Barat, menyatakan berunjuk rasa karena kebutuhan hidup tidak terjangkau karena kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). "Minyak tanah dari Rp 1.200 menjadi Rp 3.000. Beras dari yang paling murah Rp 2.400 menjadi Rp Rp 3.200 per kilo," katanya.

Sri mengaku kampungnya tidak mendapat bantuan langsung tunai, tapi bukan itu alasan melakukan unjuk rasa. "Kami inginnya BLT ditiadakan karena selama ini justru menimbulkan banyak korban. Lebih baik dananya dialihkan untuk mensubsidi harga BBM saja," ujarnya.

Ajun Komisaris Pol. Sudjadi, Wakapolsek Gambir, menyatakan pengunjuk rasa sudah memiliki izin karena sebelumnya mereka telah mengajukan pemberitahuan untuk massa satu bulan sejak aksi pertama 20 Oktober lalu. Tetapi pada pukul 11.10 tiba-tiba polisi membubarkan pengunjuk rasa dan menggiring mereka meninggalkan jalur hijau di depan istana negara. "Kami dibubarkam, alasannya polisi mau salat Jumat," kata Sri.

jojo raharjo

TOPIK






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: