Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Iptek  
  Internasional  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ada Busung Lapar di Bekasi
Minggu, 25 Desember 2005 | 22:44 WIB

TEMPO Interaktif, Bekasi:Busung lapar bukan hanya terjadi di tempat yang jauh dari pusat kekuasaan. Di dekat "teras" Istana Presiden pun, terjadi. Jaka alias Anjang berusia 14 tahun, warga Desa Pantai Harapan Jaya, Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi menderita penyakit busung lapar.

Saat ditemui, wajah anak kedua dari empat bersaudara tersebut, tampak lusuh dan tidak bertenaga. Badannya kurus,untuk berjalan anak dari pasangan petani, Jamal dan Maryati, ini pun lemah.

Yang mencolok perutnya yang membesar. Perut Anjang sangat menonjol karena bagian tangan dan kaki lebih kecil. Sedangkan, kedua matanya juga terlihat cekung dan layu sehingga memboat bola matanya seperti mau keluar dan berbeda dari anak normal lainnya.

Berat badan Anjang yang sempat mengenyam sekolah sekolah dasar sampai kelas tiga ini makin menurun sehingga makin tampak kulitnya seperti mengering dan galur-galur tulang makin terlihat. Penyakit yang diderita Anjang ini, menurut Maryati ibunya, sudah mulai terjadi sekitar tiga tahun lalu.

Saat itu, Anjang masih sekolah di kelas IV SD Negeri IV Harapan Jaya. Kondisi tubuh anak kesayangannya sehat sejak lahir. Tapi, keluarga kurang mampu ini, kini cuma kebingungan dengan kondisi Anjang yang kian kurus.
Keluarga pasangan suami istri tersebut selama ini memenuhi kebutuhan makan dengan dengan program beras miskin pemerintah. Mereka membeli beras miskin lebih mahal dari nilai sesungguhnya, per liter Rp 1.200. Mestinya Rp 1.000/kg.

Ketiadaan harta benda, menyebabkan petani penggarap yang tinggal di dekat sungai dan berlokasi di kawasan utara Kabupaten Bekasi ini, selalu kesulitan ketika membawa anaknya ke klinik kesehatan. Meski begitu, upaya untuk mengobati Anjang tetap dilakukan. Sekali-sekali, ia pergi ke rumah mantri kesehatan untuk membeli obat. Kalau di tempat mantri Wahyu tak ada obat, ia mesti pergi ke tempat lain lagi.

Tidak hanya soal obat yang kadang susah didapat, uang untuk membelinya pun tak kalah susah. "Kalau pas punya uang beli obat, perutnya agak sembuh, tapi setelah itu ya besar lagi,"katanya.

Mereka tinggal di sebuah rumah berdinding kayu dan berlantai tanah liat. Luas bangunan tidak lebih 6 X 8 meter persegi. Rumah mereka ini, pada 2003 lalu, pernah roboh karena dihempas angin dan genangan air. Sejak itu, tak lagi mampu membangun rumah lebih baik lagi.
Sehari-hari, mereka makan rata-rata dua kali.

Mereka tidak mampu menyediakan makanan bergizi empat sehat lima sempurna. "Boro-boro bisa makan telur dan daging. Mendingan, kalau punya uang dibelikan obat untuk perutnya Anjang,"ujarnya. Berbeda dengan Iklan layanan masyarakat di televisi yang menayangkan Menteri Pertanian, bahkan sampai ada anak yang makan ayam dan telur dua.

Siswanto

Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB<spasi>brk71185<spasi>komentar dan kirim ke 9333


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Sultan: Gizi Buruk Akibat Pola Gotong Royong Hilang
10 Ribu Dus Biskuit Berkalori Tinggi Tiba di Yahukimo
Pemerintah Akan Bangun 100 Lumbung Pangan
Korban Tewas Busung Lapar di NTT Terus Bertambah
Dana Busung Lapar Dibelikan Kijang Innova
NTB Belum Menerima Dana Busung Lapar
Jurnalis Jerman Bantu Pengobatan Gizi Buruk di Banten
Dana Busung Lapar NTB Belum Turun
RS Cikini Kembali Rawat Dua Pasien Busung Lapar
Sutiyoso Ancam Gusur Pejabat
> selengkapnya...


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [2]


Berita Terakhir

Adinda Bakrie Gelar Resepsi Mewah
Indonesia Masuk Radar OECD
Presiden Kecewa Larangan Terbang ke Eropa Diperpanjang
Anwar: Aliran Dana BI Lebih Serius dari Korupsi Biasa
Pabrik Mittal Jadi Acuan Krakatau Steel

<< December,2005>>
MSnSl RK JS
    01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data