Penipuan Melalui Telepon Kecelakaan Semakin Meresahkan
Selasa, 27 Desember 2005 | 17:46 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Penipuan melalui telepon kecelakaan semakin meresahkan masyarakat. "Aparat hendaknya bertindak," ujar Zulharaf, 50 tahun, penduduk Jati Makmur, Pondok Gede, Bekasi, yang mengaku hampir menjadi korban penipuan itu, (27/12).
Zulharaf yang datang dengan muka cemas tiba-tiba menangis di depan petugas Instalasi Gawat Darurat, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Ia baru saja mendapat kepastian dari petugas rumah sakit bahwa kabar kecelakaan anaknya, Ilham Hidayat, tidak benar.
Zulharaf mengaku diperintahkan untuk mentransfer uang Rp 12 juta oleh seseorang yang mengaku bernama Dokter Rahman sekitar pukul 13.30 WIB. Uang itu, menurut penelepon, untuk membeli obat di Apotek Bakti Kencana karena Ilham, anaknya, disebutkan mengalami pendarahan akibat kepala retak dan kaki patah.
Beberapa saat kemudian, "Dokter" menelepon lagi dan mengatakan bahwa Ilham sudah ada di ruang Unit Gawat Darurat. Zulharaf pun diperintahkan secepatnya mentransfer uang ke nomor rekening 09407337558 ke BCA Jakarta atas nama Syamsul Rizal.
Zulharaf mengaku hanya memiliki uang Rp 6 juta dan tidak memiliki ATM. "Pelaku mengatakan nggak apa-apa, tapi saya dilarang langsung ke rumah sakit sebelum mentransfer uang."
Setelah bermusyawarah dengan adiknya, Zulharaf membatalkan transfer uang. "Adik saya bilang rumah sakit tidak mungkin meminta uang seperti itu," ucapnya.
Sepuluh menit setelah Zulharaf datang, Ikbal, penduduk Bintaro, calon korban lain mengadukan hal yang sama. Karyawan swata itu mengaku ditelepon seseorang bernama Heru dan mengatakan bahwa istrinya, Nina Diah Wuri Handayani, gegar otak dan patah tulang hingga koma.
Ikbal mengaku diminta uang Rp 18 juta untuk biaya alat pen dari PT Mitra Mandiri. "Saya dihubungkan ke Dokter Sulistiawan," ujar Ikbal.
Setelah itu, Cesar, 16 tahun, keponakan Ikbal, menelepon "Dokter Sulistiawan" dan Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Ternyata tidak ada korban bernama Nina.
Ruswa, petugas Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Ciptomangunkusumo, mengatakan bahwa setiap hari ia bisa menerima 15-20 pengaduan penipuan berkedok kecelakaan. Rata-rata penelepon meminta Rp 5 juta-Rp 20 juta. "Kemarin ada yang tertipu senilai Rp 29 juta," ujarnya kepada Tempo. Badriah





