Tangerang Minus 5.849 Ruang Belajar
Minggu, 11 Juni 2006 | 23:06 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Ruang kelas di sekolah-sekolah Kabupaten Tangerang umumnya telah melebihi batas daya tampung. Jumlah siswa tak sebanding dengan ruang belajar yang tersedia. Kepadatan yang berlebih, terutama terjadi di tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.
"Kami perlu ribuan kelas baru," kata Bupati Tangerang Ismet Iskandar akhir pekan lalu.
Menurut data pemerintah, saat ini hanya ada 1.426 gedung sekolah dasar negeri dan swasta di Kabupaten Tangerang. Total ruang belajarnya hanya 8.539 kelas untuk menampung 13.442 rombongan belajar. Jika mengacu pada kondisi ideal, sekitar 40 siswa per kelas, Kabupaten Tangerang memerlukan 4.903 kelas baru--setara dengan 817 unit sekolah.
Di tingkat sekolah menengah pertama, Kabupaten Tangerang juga kekurangan 946 kelas. Saat ini, hanya ada 436 gedung SMP negeri dan swasta di wilayah itu. Ruang belajar yang tersedia hanya 3.272 kelas. Dengan membuka kelas siang dan sore sekalipun, yang tertampung baru 4.218 rombongan belajar.
"Kami masih harus membangun 105 gedung SMP baru," kata Ismet.
Buruknya kondisi ruang belajar, misalnya, bisa dilihat di SD Negeri V dan VI Pakuhaji, yang masih menempati gedung bersama. Di sini, hanya ada enam ruang belajar. Tapi tiga ruang tak bisa dipakai lagi karena atapnya ambruk.
Di pagi hari, sekitar 300 siswa SD Negeri V Pakuhaji harus belajar bergiliran hingga pukul 12.30. Kelas I-III belajar pukul 07.15-09.30, sementara kelas IV-VI belajar pukul 09.30-12.30.
Selanjutnya, sekitar 400 siswa SD Negeri VI Pakuhaji juga memakai ruang kelas secara bergiliran. Kelas I-III belajar pukul 12.30-15.00, sedangkan kelas IV-VI belajar pukul 15.00-17.00.
Untuk mengatasi masalah itu, Pemerintah Kabupaten Tangerang telah meminjam uang Rp 75 miliar ke Bank Jabar. Tapi pinjaman itu hanya cukup untuk membangun 42 gedung sekolah baru. Perinciannya, 37 gedung SD di sejumlah kecamatan bagian utara Tangerang, 1 gedung SMP di Balaraja, dan 4 gedung SMA di Legok, Pasar Kemis Teluknaga, dan Rajeg.
"Pembangunan fisik menelan biaya Rp 72 miliar. Sisanya untuk perencanaan dan pengawasan," kata Kepala Dinas Bangunan dan Permukiman Kabupaten Tangerang M. Hidayat.
Selain memerlukan ruang belajar tambahan, ruang belajar yang ada pun kondisinya banyak yang rusak. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang Muhyi Sarifudin mengatakan, dari 1.116 gedung sekolah dasar negeri, sekitar 70 persennya rusak. Perinciannya, 35 persen sama sekali tak layak pakai, 35 persennya lagi rusak tapi masih bisa dipakai.
Jika tak ada terobosan dalam pendanaan, menurut Muhyi, kekurangan ruang kelas di Tangerang belum tentu teratasi 5-10 tahun ke depan. joniansyah




Komentar Anda :