Bekas Pasien Adukan Malpraktek Rumah Sakit
Minggu, 09 Juli 2006 | 02:54 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Thomas Saepul, warga RT 1 RW 12 Bojong, Pondok Terong, Pancoranmas, Depok, mengadukan Rumah Sakit Bakti Yudha Depok ke Polda Metro Jaya. "Ini dugaan malpraktek," kata Nia Yuniarsih, pendamping hukum dari Lembaga Bantuan Hukum Kesehatan, di Jakarta, kemarin.
Ketika datang ke Polda, Thomas sempat menunjukkan akibat dari tindakan dokter di RS Bakti Yudha. Di perut pria 36 tahun itu ada benjolan sebesar buah pepaya, yang sekilas tampak seperti tumor. Selebar telapak tangan, kulit di atas perutnya menghitam seperti bekas luka bakar.
Kemalangan Thomas bermula pada 28 November 2005. Perutnya sakit luar biasa. Klinik Bunda dekat rumahnya hanya memberikan obat maag. Perut masih melilit, dia pun memeriksakan diri ke RS Harapan Depok. Di sana, ia diberi suntikan, namun tak kunjung sembuh, justru sakit makin menjadi.
Pada 30 November 2005, Thomas sudah tak bisa buang air besar maupun kecil. Di bawah kemaluannya terasa sakit. Pihak RS Harapan Depok menduga dia menderita infeksi saluran kencing. "Tapi dokter di sana tidak sanggup menangani penyakit saya," kata Thomas.
Dini hari 1 Desember 2005, karena sakit luar biasa, Thomas mendatangi RS Bakti Yudha. Petangnya, rumah sakit mengoperasi Thomas setelah dia membayar uang muka. "13 hari dirawat inap, saya dan keluarga tidak diberitahu apa penyakit saya," ungkap Thomas. Menurut Thomas, dokter selalu mengalihkan pembicaraan bila ditanya tentang penyakit yang dideritanya. Padahal, usus besarnya sudah dipotong sekitar 5 sentimeter. Dia dinyatakan sembuh walau perutnya berlubang sedalam 5 sentimeter, setelah jahitan dibuka akibat operasi.
Tapi lebih setengah tahun setelah operasi, perut Thomas masih saja bengkak dan terkadang mendadak sakit. Dia jadi mudah lelah dan sakit. “Naik motor tak kuat lagi,” ujar ayah dua anak itu.
Juru bicara RS Bakti Yudha, Sumarty, belum bisa berkomentar banyak. Ketika dihubungi melalui telepon, dia mengaku berada di luar kota. “Senin nanti saya baru bisa menjawab, tapi jangan lewat telepon ya," kata dia.
Ibnu Rusydi





