Kawasan Sudirman Panik
Rabu, 19 Juli 2006 | 22:16 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Sejumlah karyawan yang masih berada di dalam gedung kantor di kawasan perkantoran elite Jalan Sudirman, Jakarta Pusat. Mereka langsung berhamburan keluar setelah merasakan getaran akibat gempa sore tadi.
Iqbal A.S., karyawan bagian kredit Standar Chartered Bank yang dihubungi sekitar setengah jam setelah gempa, mengaku sedang berada di lapangan parkir. Kurang lebih 100 karyawan lainnya belum diperbolehkan kembali masuk gedung oleh pengawas gedung melalui pengeras suara.
“Saya kaget, rasanya 1 menit goyang terus,” katanya.
Dia yang saat itu berada di lantai 9 langsung turun menggunakan tangga darurat bersama sekitar 20 orang yang masih berada di lantai itu. “Nggak ada yang berani pakai lift,” ujarnya. Gedung wisma Standar Chartered yang berada di belakang Wisma Dharmala Sakti itu terdiri dari 20 lantai.
Untunglah, kata Iqbal, gempa terjadi pada jam usai kantor sehingga tidak menimbulkan kepanikan luar biasa. “Biasanya jam 5 udah pada pulang,” kata Iqbal.
Menurut Iqbal, para karyawan itu langsung turun namun tidak sampai berebutan. Setelah turun, kata Iqbal, kebanyakan dari mereka tidak berani untuk kembali naik ke atas. Bahkan, 20 menit setelah gempa banyak yang langsung pulang. Karena, pengawas gedung menganjurkan demikian dan jika ada barang berharga yang masih tertinggal, diminta untuk melaporkannya ke satpam.
Sekretaris PT Motorola, Yenny Pratiwi yang berkantor di Gedung BRI 2 juga mengalami kepanikan serupa. “Goyangannya kencang lebih dari satu menit, lebih kencang dari yang sebelumnya” katanya. Dia sendiri berada di lantai 30 bersama sekitar 20 orang lainnya dan katanya, semua dalam keadaan panik.
Mereka, kata Yenny, langsung menuju lobi lantai 30 untuk kemudian turun berurutan menggunakan lift sesuai instruksi dari HRD. “Tidak mungkin dengan tangga karena kita di lantai 30,” kata Yenny. Gedung itu sendiri terdiri dari 31 lantai.
Berkat gempa sebelumnya, kata Yenny, karyawan-karyawan tersebut sudah lebih terlatih dan tahu apa yang harus dilakukan menghadapi situasi tersebut meskipun tetap dengan kepanikan di wajah mereka. Namun demikian, kata Yenny, ada yang turun ke bawah menggunakan tangga darurat.
Mereka langsung berkumpul di taman yang berada di tengah-tengah gedung, diantara gedung BRI 1 dan 2 serta wisma GKBI. Kesemua karyawan di amsing-masing gedung itu berkumpul di taman ditambah beberapa orang dari restoran yang juga berada di sekitar lokasi itu.
“Saya rasa sampai 300 orang dan ada juga yang menyebar ke jalan” kata Yenny. Ketika dihubungi Tempo, Yenny mengatakan bahwa sudah ada beberapa karyawan yang sudah kembali masuk ke gedung, meskipun masih banyak juga yang masih menunggu di taman tersebut. “Pengawas gedung tidak punya otoritas untuk melarang,” kata Yenny. Beberapa dari mereka, kata Yenny, banyak yang langsung pulang.
Renee Doenggio, Partner Technology Specialist PT Microsoft Indonesia yang berkantor di tower 2 gedung Bursa Efek Jakarta yang saat itu berada di lantai 18 belum sadar bahwa terjadi gempa sebelum salah satu temannya berteriak-teriak gempa.
Dia sendiri merasa ada bunyi yang tidak biasa, seperti lemari yang bergoyang-goyang sebelum menyadari bahwa itu gempa. Segera setelah pengawas gedung menginformasikan segera evakuasi, ia segera turun dengan tangga darurat karena dilarang menggunakan lift.
Setelah turun, mereka berkumpul di halaman gedung, halte, dan jalan-jalan yang menghadap SCBD. “Ada banyak sekali, lebih dari 500 orang,” katanya. Otomatis, kata Renee lalu lintas menjadi macet. Mereka diantaranya, kata Renee, selain karyawan di gedung BEJ tower 1 dan 2, juga berasal dari Plaza Bapindo. Setelah 45 menit menunggu, baru para karyawan itu diperbolehkan kembali masuk ke gedung, meskipun pengawas gedung menyarankan mereka langsung pulang. “Waktu turun ngga bawa apa-apa,” kata Renee.
Setelah kembali masuk gedung, kata Renee, beberapa karyawan langsung melihat informasi mengenai gempa tersebut. Bahkan, katanya, kantornya secara khusus berlangganan dengan situs khusus yang memberikan informasi gempa akibat gempa sebelumnya.
Nur Aini





