close

Aksi Damai Falun Gong Dibubarkan Paksa

Sabtu, 05 Agustus 2006 | 17:12 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Aksi damai meditasi Falun Gong di bekas pasar Pancoran, Glodok, Jakarta Barat, dibubarkan paksa oleh puluhan warga. Mereka meneriaki aktivis kelompok anti komunis itu dengan maki-makian kasar. Beberapa aktivis diseret, ditendang dan dipukul hingga terluka.

Sekitar pukul 10 pagi, sekitar 10 aktivis Falun Gong berkumpul di dekat rumah biliar Fortuna. Di sebuah rumah toko, ada spanduk kuning bertulisan "Warga Glodok menolak keras aktivitas Falun Gong". Di dalam pagar seng yang menutup bekas pasar rakyat Pancoran, para aktivis itu duduk dan bermeditasi.

Aksi solidaritas simbolis itu ditujukan untuk memprotes jual beli organ tubuh di Cina dan kekerasan terhadap aktivis Falun Gong di negeri Tirai Bambu. "Glodok pusat etnis turunan. Partai Komunis Cina paling gampang mempengaruhi warga di sana," kata Tata Ermanta, aktivis Falun Gong Jakarta, menjelaskan alasan pemilihan lokasi aksi itu, saat melapor ke Polda Metro Jaya, Sabtu 5/8 sore.

Baru sekitar lima menit bermeditasi, tiba-tiba puluhan warga datang ke dalam area yang tertutup pagar seng. Awalnya mereka menonton, ada pula yang memotret aksi yang sudah beroleh izin polisi itu. Dalam rekaman aksi yang dilihat Tempo, seorang pria setengah baya berkaos lengan pendek berkerah, bercelana pendek dan bertopi, meneriakkan kata-kata cacian tak sopan melalui megafon. Pria itu berjenggot dan berkumis.

Seorang pria berbaju batik juga beraksi layaknya dukun. Dia mempraktekkan gerakan-gerakan seperti jurus, mengeluarkan kain merah yang diikatkan ke pinggangnya. Seorang perempuan gemuk setengah tua berkulit kuning dan bermata sipit bahkan mendorong-dorong para aktivis yang duduk bermeditasi dengan mata tertutup. "Bangun, bangun!" kata perempuan bertopi merah, bercelana hitam itu. Warga lain pun terprovokasi dan membubarkan para aktivis, dengan menggotong tubuh mereka.

Salah satu aktivis yang ditendang adalah Bahtiar. "Yang menendang kurus, memakai helm hingga wajahnya tak terlihat," ujarnya. Sunardi, aktivis lain, menderita luka di kedua kaki dan memar punggungnya. Ketika bermeditasi, tubuhnya digotong dan dilempar. Kamera Nikon D-70 seharga Rp 10 juta, yang dikalungkan di leher, pun pecah lensanya.

Sekitar 15 menit rusuh, beberapa petugas Pos Polisi Glodok datang dan mengevakuasi para aktivis yang berkaus kuning muda, bertulisan "Falun Dafa is Good". Ketika berjalan menuju pos polisi itu, beberapa warga ada yang menendang mereka. Tas berisi spanduk dan jaket pun dirampas.

Bahtiar menduga, intimidasi warga itu dilakukan orang-orang bayaran. "Kedutaan Cina punya relasi bisnis dengan Glodok," ujarya. Para aktivis pun melaporkan ke Polda Metro Jaya dengan pasal 157 KUHP tentang permusuhan antar kelompok dan pasal 335 tentang perbuatan tidak menyenangkan. Terlapornya adalah pengurus RW 3 Pancoran, bernama Fonda alias A Pau. "Dia memprovokasi pergerakan massa," kata Bahtiar.

Kepala Polsek Tamansari, Komisaris Budi Syarin, mengaku belum tahu tentang pelaporan itu. Namun dia berjanji akan menindaklanjuti setelah mendapat disposisi dari Polda. "Saya belum mendengar ada warga Pancoran yang tidak senang dengan Falun Gong," katanya melalui telepon.

Sepanjang 2006, Falun Gong yang juga dikenal dengan nama Falun Dafa, telah mendapat intimidasi empat kali, yang semuanya dilaporkan ke polisi. "Belum ada pengintimidasi yang ditahan," kata Tata. Aliran Falun Gong, kata dia, memang rutin melakukan aksi simbolis serupa di berbagai lokasi. Biasanya mereka menggelar spanduk-spanduk anti Partai Komunis Cina dan slogan memprotes kekerasan dan penjualan organ tubuh anggotanya di Cina. Pada aksi kali ini, spanduk belum digelar, mereka keburu dibubarkan warga.

IBNU RUSYDI

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Komentar Anda :

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan