Pembongkaran Warung Remang-Remang Rusuh

Rabu, 09 Agustus 2006 | 21:07 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pembongkaran 139 bangunan liar di Desa Limusnunggal, Cileungsi, Bogor, siang tadi sempat rusuh. Seratusan orang menghadang dan melempari aparat gabungan dengan batu dan kayu. Akibatnya, tiga orang petugas dilarikan ke rumah sakit karena luka-luka.

Karena terdesak, aparat sempat mengeluarkan tembakan peringatan. Tapi, tembakan itu tak langsung membuat massa bubar. Massa terus merangsek, sampai aparat merapatkan barisan lalu berbalik mengalau mereka.

Setelah aparat polisi, tentara, dan pamong praja membubarkan massa, sebuah alat berat langsung merobohkan satu-persatu warung remang-remang di blok Cokelat, blok Ayam Pale, blok Lengkong, dan blok Anggrek itu.

Camat Cileungsi, Lutfi, mengatakan, bangunan dirobohkan karena tak memiliki ijin mendirikan bangunan. Pemerintah setempat telah memberi tiga kali peringatan agar pemilik membongkar sendiri bangunannya. “Tapi, mereka tak menanggapi,” ujar Lutfi.

Kepala Bidang Pengendalian dan Operasi Dinas Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Bogor, Nanang S, mengatakan, meski ada perlawanan, aparat akan terus membongkar bangunan liar. “Apalagi tempat itu sering dijadikan tempat prostitusi,” kata Nanang.

Mawardi, seorang pemilik bangunan, membantah warungnya menjadi tempat transaksi seks. Ia membuka warung hanya untuk jualan nasi. “Saya jelas kecewa, modal saya amblas,” kata dia.

Dadang, tukang ojek yang biasa mangkal di sekitar warung juga mengaku kesal dengan tindakan aparat. Maklum, ia biasa mangkal di tempat itu sampai larut malam. Penghasilannya rata-rata Rp 100 ribu per hari. “Kalau ngojek biasa (siang), paling Rp 30 ribuan,” kata Dadang.

Deffan Purnama






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: