Bayi Dua Kepala Lahir Lalu Meninggal
Jum'at, 06 Oktober 2006 | 03:48 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Bayi satu jantung berkepala dua lahir di Tangerang dua hari lalu. Tapi bayi bernama Syamurni dan Syamurti itu hanya bertahan 18 jam.
Si bayi meninggal kemarin pukul 15.10 WIB. Penyebabnya, "Gagal pernapasan dan jantung," kata Khumaedi, dokter spesialis anak Rumah Sakit Umum Daerah Tangerang.
Sejak lahir, si bayi tak bisa bernapas ataupun menangis. Dia hanya bernapas lewat selang oksigen. Jika selangnya dicabut sebentar saja, tubuhnya langsung membiru. "Fungsi paru-parunya belum normal," kata Khumaedi.
Jantung Syamurni-Syamurti juga bermasalah. Jantung tunggal anak ketiga pasangan Martinem, 37 tahun, dan Wisnu Prastyo, 39 tahun, itu tak mampu menanggung beban dua tubuh sekaligus.
Bayi dengan berat 3,8 kilogram dan panjang 43 sentimeter itu lahir lewat operasi caesar. Posisi tubuhnya berhadapan. Dari kepala sampai leher tampak terpisah. Tapi dari dada hingga perut menyatu. Bagian bawah tubuh, dari pinggang hingga ujung kaki, kembali terpisah.
Organ dalam tubuh si bayi pun tak normal. Menurut Khumaedi, Syamurni-Syamurti hanya memiliki satu jantung, satu hati, dan dua paru-paru. Meski begitu, lambung dan ususnya terpisah.
Pada 7 Agustus lalu, bayi berkepala dua bernama Syafitri juga lahir di Jakarta. Memiliki organ dalam tubuh tunggal, Syafitri disebut-sebut sebagai kasus pertama di dunia. Setelah dirawat intensif 15 hari di Rumah Sakit Pelni, Petamburan, Syafitri meninggal. Penyebabnya sama, gagal pernapasan dan gagal jantung.
Sejak awal, tim dokter RSUD Tangerang memperkirakan Syamurni-Syamurti pun tak bisa menjalani operasi pemisahan tubuh. "Mereka seperti dua badan, tapi satu nyawa," kata Khumaedi. Jika ada pemisahan, salah satunya bakal meninggal.
Martinem, ibu Syamurni-Syamurti, sehari-hari bekerja sebagai buruh cuci. Sang ayah, Wisnu, bekerja sebagai buruh serabutan. "Kami tak punya uang. Untuk biaya bersalin, kami memakai kartu miskin," kata Wisnu, lelaki kelahiran Yogyakarta.
JONIANSYAH





