Jenis Peluru Belum Diketahui
Sabtu, 25 November 2006 | 01:17 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Kondisi Agung Wicaksono, 10 tahun, korban yang terkena peluru nyasar, sudah berangsur membaik. Meskipun jalannya masih tertatih, ia sudah bisa main dengan tetangganya.
Sugeng, ayah korban sampai saat ini masih penasaran dari mana peluru itu berasal. Ia berharap polisi bisa segera mengungkap peluur jenis apa yang mengenai paha anaknya.
Pada paha kanan Agung masih terlihat luka hitam bekas peluru bersarang. Luka sepanjang empat sentimeter, sudah dijahit empat jahitan, di RS Ciawi.
Agung menceritakan saat ia terkena peluru sebenarnya tidak terasa, karena ia sedang tidur. Setelah peluru itu dicabut dan mengeluarkan darah, barulah ia merasa kesakitan. “Apalagi waktu dijahit sakit sekali,” ujarnya polos.
Beberapa kerabat dan tetangga korban masih berdatangan ke rumahnya di Desa Gunung Geulis, RT 02/02, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor. Seperti umumnya anak-anak saat ditengok, Agung bermain seperti biasanya.
Sehari sebelumnya Kepala Polisi Sektor Sukaraja, Ajun Komisaris Wawan W. menjelaskan, saat ini pihaknya masih menyelidiki asal peluru dan jenisnya apa, “Kami tidak berani menyimpulkan karena itu bukan bidang saya, yang jelas sudah dikirim ke Puslabfor,” ujarnya.
Ukuran peluru berdiameter sekitar 1 x 1,5 sentimeter, ujung peluru agak bulat, diperkirakan karena sudah membentur asbes, langit-langit rumah dan paha kanan Agung. Seorang anggota TNI setempat yang sempat datang juga tidak mengetahui peluru jenis apa, “Kalau FN kecil dan lancip, ini bukan peluru standar TNI,” ujarnya.
Ia menjelaskan asbes dan langit-langit rumah Sugeng memang bolong agak tegak lurus, bisa jadi peluru melesat dari ketinggian, yang jelas jika tembakan dari atas bukit sangat tidak mungkin, karena posisi rumah Sugeng agak tinggi.
Kapolsek Sukaraja, Ajun Komisaris Wawan W. mengatakan kejadian ini jangan dikaitkan dahulu asal peluru dari sebuah helikopter, karena pihaknya sampai saat ini masih menyelidiki kejadiannya, sambil menunggu
hasilnya.
DEFFAN PURNAMA





