Menteri Kutuk Pelecehan Seks di SMP Budi Waluyo

Sabtu, 25 November 2006 | 18:19 WIB

TEMPO Interaktif, JakartaDua siswi Sekolah Menengah Pertama Budi Waluyo, Jakarta Selatan, menjadi korban pelecehan seksual oleh gurunya sendiri. Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta, pun mengutuk perbuatan guru itu.

“Itu perbuatan asusila dan kebejatan akhlak,” kata Mutia dalam surat yang dibacakan Irma Alamsyah, Deputi Menteri Perlindungan Perempuan, saat mendatangi sekolah itu, kemarin.

Pelecehan diduga dilakukan EM, guru pelajaran Ekonomi dan Komputer di sekolah khusus anak hiperaktif dan autis itu. Korbannya dua siswa SMP kelas I. Sebut saja nama mereka Mawar, 13 tahun, dan Melati, 12 tahun.

Cindy Inkiriwang, orang tua Melati, mengatakan, setelah jadi korban, perilaku anaknya di rumah jadi berbeda. Si anak sering marah-marah tanpa alasan. Ketika didesak, si anak menjelaskan perbuatan gurunya itu. “Anak saya pernah diancam agar tak melapor,” kata Cindy.

Pelecehan terjadi di hari-hari sebelum bulan puasa. EM berulah ketika korban berada di ruang laboratorium komputer. Dia berkali-kali meraba-raba tubuh korban. Guru itu bahkan pernah menyelipkan tangannya ke dalam baju korban. “Dalam hati, saya marah betul. Tapi tak berani lapor,” kata Mawar.

Para orang tua siswa kemarin mendatangi sekolah di Jalan Cisanggiri 3, Kebayoran Baru, itu. Mereka datang bersama utusan Menteri dan pra aktivis perempuan. Para wali murid menuntut yayasan pengelola sekolah memecat EM. “Biar kami tenang menyekolahkan anak,” kataVeni Anggraeni, ibu kandung Mawar.

Tapi, pengurus yayasan menganggap pelecehan itu tangung jawab pribadi pelaku. Pengurus menyatakan tak bisa menghukum EM. “Kami bukan lembaga hukum,” kata Cindy menirukan penjelasan pengurus yayasan.

Kepada wartawan, Mujiyo, anggota pengurus Yayasan Budi Waluyo, hanya memberi keterangan singkat. "Masalah itu sedang diproses. Jadi belum ada tindakan konkret dari kami," kata dia.

Tak puas atas jawaban itu, orang tua murid pun melapor ke Kepolisian Resor Jakarta Selatan. “Kami lapor karena pihak sekolah lepas tangan,” kata Cindy.

Wahyudin Fahmi






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: