Jembatan Ambrol di Limo, Depok
Rabu, 14 Februari 2007 | 03:34 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
DEPOK -- Sebuah jembatan di atas sungai di Jalan Pinang, Kelurahan Limo, Depok, ambrol kemarin. Akibatnya, sekitar 500 keluarga dari tiga rukun tetangga di Kampung Lebang sempat terisolasi karena akses menuju Jalan Raya Limo terputus.
Zaenudin, warga yang tinggal di RT 01 RW 15, mengatakan jembatan di Kali Gede itu ambrol pada pukul 09.00 WIB. Saat itu hujan deras turun sehingga debit air di Kali Gede meningkat.
Zaenudin menduga jembatan sepanjang 10 meter dan lebar 5 meter itu ambrol lantaran tanah yang labil dihantam air sungai yang meluap sampai ke permukaan jembatan. "Gorong-gorong di bawah konstruksi jembatan tidak sanggup mengalirkan air," katanya.
Sebelum ambrol, seorang warga sempat melihat pusaran di permukaan air yang meluber sampai ke jembatan. Tak lama kemudian, jembatan yang dibangun atas swadaya masyarakat pada 1984 itu pun ambruk ke dasar sungai.
Tak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, lantaran warga yang sempat melihat pusaran itu sempat melarang warga lainnya melintas di sana. Namun, peristiwa itu tak urung menyebabkan warga kaget.
Sebelumnya, tak ada tanda-tanda jembatan itu akan ambrol. Tak ada keretakan atau tanda kerapuhan pada konstruksi jembatan.
Akibat ambrolnya jembatan, Jon, warga RT 03, mengatakan banyak warga yang bekerja di Jakarta memilih meliburkan diri karena sulit melewati Jalan Raya Limo, jalan akses utama menuju Depok atau Ciputat dan Jakarta.
Jika ada warga yang ingin keluar dari Kampung Lebang, mereka harus memutar menuju jembatan kecil di RW 02. Tapi jembatan itu hanya bisa dilalui oleh pejalan kaki atau kendaraan roda dua karena lebarnya hanya 2 meter.
Jembatan itu pun sudah berbahaya. "Ada retakan di salah satu titiknya," kata Jon.
Sore hari kemarin warga dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Limo sudah membuat jalan darurat dari kayu yang menghubungkan Kampung Lebang dengan RT 03 RW 04 dan Jalan Raya Limo. Namun, jalan darurat itu hanya bisa dilalui pejalan kaki.
Zaenudin mengatakan tanah di sekitar jembatan labil lantaran musim hujan. Kelabilan itu diperparah oleh lalu lintas kendaraan PT Wisma Mas, perusahaan pengembang proyek Perumahan Wisma Mas, Cinere, yang berdiri di Kampung Lebang. Saban hari kendaraan perusahaan itu melintas dan mengangkut bahan material proyek.
"Sejak dulu jembatan tersebut sering kebanjiran bila musim hujan, tapi kondisi jembatan masih aman," ujar Zaenudin.
Zaenudin mengatakan, sebelum PT Wisma membangun perumahan, sudah ada kesepakatan bahwa pengembang akan menyumbang perbaikan jembatan. "Pengembang sudah melebarkan jalan ini antara 60 sentimeter hingga 1 meter, tapi belum sampai perbaikan jembatan, sudah terjadi ambles," kata Zaenudin.
H A. Zailani, Lurah Limo, mengatakan mereka sudah melaporkan kejadian itu ke Pemerintah Kota Depok. Bila dibangun kembali, penyelesaiannya diperhitungkan memakan waktu tiga bulan, dengan biaya sekitar Rp 150 juta.
PT Wisma bersedia membantu biaya pembangunan tersebut. "Pengembang akan ikut menyumbang," ucap Ii Sayuti, petugas di bidang teknis PT Wisma Mas.
ENDANG PURWANTI





