Spekulan Beras Serbu Operasi Pasar
Kamis, 15 Februari 2007 | 04:16 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Warga Jakarta menyerbu operasi pasar beras yang digelar di beberapa pasar. Namun, sebagian dari mereka ditengarai sebagai spekulan yang membeli beras lalu menimbunnya atau menjual kembali dengan harga mahal.
Di Pasar Rawa Badak, Tanjung Priok, Jakarta Utara, ada sekitar 500 orang yang antre untuk mendapatkan beras dari Badan Urusan Logistik (Bulog) itu. Udin, 42 tahun, petugas keamanan di sana, mengatakan sebagian adalah spekulan. "Mereka itu muka-muka lama," katanya kepada Tempo kemarin.
Udin mengatakan para spekulan itu berasal dari luar Tanjung Priok, seperti dari Bojong, Bekasi. "Sudah dari pukul 06.00 WIB mereka menunggu truk pengangkut," ujar Udin.
Udin mengatakan, pada operasi pasar tiga bulan lalu, para spekulan itu sempat mengancam petugas Bulog dengan golok. "Gara-gara itu, Bulog sempat menghentikan operasi pasar di Rawa Badak," katanya.
Jafar, 62 tahun, pedagang beras di pasar itu, mengatakan praktek seperti itu sudah lama berlangsung di Rawa Badak. Menurut dia, pembagian beras sering tidak terkontrol sehingga banyak warga setempat yang tidak mendapat jatah. "Pengantre luar itu banyak yang ambil dua karung berulang-ulang. Kasihan warga sini tidak mendapat jatah," katanya.
Petugas dari Bulog menurunkan 8 ton beras kemarin. Sejak pukul 10.00 WIB warga sudah berdesakkan di sekitar truk. Keenam petugas Bulog itu tampak kewalahan mengatur warga.
Beras yang dijual dalam operasi pasar kali ini seharga Rp 3.700 per kilogram, tapi petugas membagikannya dalam kemasan karung 20 kilogram dengan harga Rp 75 ribu.
Awalnya, petugas membagikan kupon. Namun, sekitar 300 kupon yang dibawa petugas habis sehingga keadaan tidak terkontrol.
Dalam kondisi yang melelahkan ini, dua wanita warga Kecamatan Koja, Rodiah, 65 tahun, dan Warsiti, 60 tahun, pingsan karena kelelahan. Keduanya lalu ditolong petugas keamanan pasar dan dibaringkan di bawah pohon.
Operasi pasar juga digelar di Pasar Slipi, Jakarta Barat. Para pedagang di sana khawatir omzet mereka akan menurun lantaran hadirnya beras tersebut. "Sebelum beras naik, pembeli bisa lebih dari 10 orang. Sekarang, tiga sampai lima orang saja sudah syukur," ujar Suminta, pemilik kios beras Subur.
FERY FIRMANSYAH | SORTA TOBING





