Rusuh Gara-gara Lahan Parkir
Selasa, 20 Maret 2007 | 14:58 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Sengketa lahan parkir dua perusahaan di Kavling A-N Jalan Raya Gaga Motor Nomor 8, Jakarta Utara, berujung kericuhan. Akibatnya kaca kantor dan beberapa mobil rusak akibat lemparan batu.
Pada pukul 08.30 WIB hari ini, karyawan dari PT Westindo melempari petugas Ketentraman dan Ketertiban dari Kecamatan Tanjung Priok. Lantaran para petugas ini bertahan di luar pagar, massa dari perusahaan layanan jaringan telekomunikasi itu lalu melempari kantor PT Sunter Pratama.
Akibatnya kaca gedung lima lantai itu pecah. Selain itu sebuah mobil boks yang diparkir di depan halaman PT Sunter Pratama mengalami juga hancur bagian pinggirnya. "Massa saat itu brutal, kami pun hampir jadi sasaran," kata Iing, 50 tahun, seorang saksi mata.
Kejadian itu lalu berhasil diredam polisi dari Kepolisian Resor Jakarta Utara, tentara dari Komando Rayon Militer Kecamatan Tanjung Priok, serta petugas Trantib. Beberapa orang ditangkap lantaran membawa senjata tajam dan terlibat kericuhan tersebut.
Tatang, 42 tahun, saksi mata yang lain, mengatakan kejadian itu dipicu sengketa lama antara PT Westindo dan PT Sunter soal lahan parkir. Tatang adalah karyawan PT Mega Trans Abadi, yang bertetangga dengan kedua perusahaan.
Sengketa lahan parkir dipicu tindakan PT Westindo yang menempatkan kendaraan mereka pada lahan parkir bersama. Kendaraan mereka rupanya diparkir sembarangan sehingga menghalangi jalan masuk ke kavling. “Banyak mobil warga kavling susah masuk,” kata Tatang.
Ada warga yang lantas mengadukan hal itu ke kantor Kecamatan dan petugas Trantib pun datang. Namun karyawan PT Westindo rupanya tak terima dan mereka menumpahkan kekesalannya kepada PT Sunter Pratama, karena diduga merekalah yang membawa-bawa persoalan itu ke kecamatan.
Namun Syukron, salah seorang karyawan PT Westindo, punya cerita berbeda. Ia menyatakan keributan itu dipicu pungutan uang parkir Rp 750 ribu per bulan bagi warga kavling, termasuk PT Westindo. “Tapi kami sering tak kebagian parkir, kami sering menyimpan mobil di luar, makanya protes," katanya.
Adapun Sulistiarto, Kepala Suku Dinas Ketentraman dan Ketertiban Kotamadya Jakarta Utara menyatakan petugas Trantib datang tanpa diundang oleh siapapun. “Kapasitas Trantib hanya menertibkan kerusuhan,” ujarnya.
Polisi mengamankan belasan senjata tajam seperti tombak, batu, dan beliung, setelah kejadian tersebut. Sebanyak 21 karyawan PT Westindo dan sembilan petugas Trantib diminta keterangannya di kantor polisi.
FERY FIRMANSYAH





